BANGSA BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI BUDAYANYA SENDIRI

MUSIK DANGDUT DAN MASYARAKATNYA

MUSIK DANGDUT DAN MASYARAKATNYA

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Indonesia dikenal oleh masyarakat dunia sebagai sebuah negara yang mempunyai keragaman budayanya. Berbagai macam bentuk kebudayaan sebagai hasil karya masyarakatnya dan sekaligus sebagai cerminan atas keragaman suku-suku bangsa namun tetap dalam satu naungan dengan jaminan pemersatunya dibawa pita Bhinneka Tunggal Ika dalam cengkraman Lambang Negara Garuda Pancasila sebagai wujud dari berdirinya Negara kesatuan Republik Indonesia. Ribuan bentuk kebudayaan yang dilahirkan oleh bangsa ini, merupakan manifestasi dari bentuk kebudayaan yang dilahirkan dari berbagai macam adat-istiadat dari cerminan setiap pulau atau propinsi yang tersebar luas dalam ribuan pulau dan membentang dari sabang sampai meraoke. demikian juga dalam hal musik, sebagai salah satu ragam kebudayaan yang terlahir di bumi Indonesia ini dan terus bertransformasi dengan kebudayaan pendatang telah memiliki karakter dan keragaman budaya tentang musik., sehingga terlahir berbagai macam aliran musik seperti Pop, rock, blues, Metal, keroncong, jazz, Reggae, klasik dan Melayu atau dangdut. Untuk jenis musik yang terakhir ini, bisa dibilang sebuah musik yang diturunkan dari jenis musik Melayu dan telah mengalami penbauran dengan warna musik lainnya yang ada di Indonesia hingga melahirkan warna baru Khas Asli Indonesia  bernama Musik Dangdut.

Tatkala alunan musik dengan dominasi suara kendang dan seruling serta klentingan melodi melantun di udara dalam suasana gegap gempita dari goyangan para penonton di sekitar panggung mengikuti alunan lagu dari para artis serta group pengiringnya itu, telah penggelorakan pengunjung dalam suatu pertunjukan ”Orkes Dangdut” yang disewa oleh Partai Politik dalam kampanye pemilhan Bupati di sebuah kota yang berhawa sejak itu, di kawasan Jawa Timur. Bagi anak-anak muda maupun orang tua, terutama dari kalangan menengah kebawah atau kelas pekerja, ini buknlah hal yang asing bagi mereka, betapa tidak, Sebuah musik yang didominasi dengan suara kendang dan seruling itu  adalah bagian dari kehidupan mereka sebagai sarana hiburn murah meriah,  dalam rangka melepas lelah sehabis bekerja seharian penuh. Tak jarang setiap adanya pentas dangdut entah dalam rangka ulang tahun organisasi atau orang mengadakan hajatan selalu dipenuhi oleh orang-orang kelas pekerja, bahkan kelas menengah kadang-kadang menengoknya saja…malu-malu…kalieee…!!!. Keberadaan musik Dangdut memang dinilai banyak kalangan sebagai musik yang membawa aspirasi kalangan masyarakat kelas bawah dengan segala kesederhanaan dan kelugasan dalam setiap pementasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik serta bangunan lagunya dengan Gaya pentas yang sensasional dari para artis yang membawakan lagu-lagunya hingga para penonton terbius dalam goyangannya yang terkadang terlihat gayanya  seronok hingga membuat orang yang melihat menjadi melotot…tot… matanya… weee… gak tahan… yaa…ngelihatnya…, sampai orang yang ada di sebelahnya merasa kesakitan dikarenakan diinjak kakinya yang memakai sandal bakiak itu… Aauuu… diamput… loro… iki… dulll…!!!

Jauh sebelumnya, sekitar tahun 1985an di kota Yogyakarta selalu diadakan perayaan Sekaten, dan deretan stand group musik dangdut ambil bagian dalam gelar budaya yang terdiri dari ratusan stand yang ada di alun-alun utara kota Yogayakarta itu. Dari pementasan musik dangdut itulah, akhirnya muncul perdebatan sengit dari kalangan budaya dan pemuka agama hingga berakhir dengan pelarangan pentas panggung dangdut dalam keikut sertaan pada stand perayaan Sekaten di Yogyakarta itu. Perdebatan muncul lagi-lagi diakibatkan gaya panggung para penyanyi (wanita)-nya yang dinilai terlalu “terbuka” dan berselera rendah, namun jangan ditanya pengunjungnya selalu membludak dan para pengunjung itu berebut dipintu masuk untuk menempati tempat duduk yang paling depan supaya enak ngeliahatnya weee…asyik…deh…!, tidak jarang orang berulang sampai nonton lima kali walaupun ditarik biaya. Dari situlah akhirnya keberadaan stand dangdut ini dilarang didalam acara sekatenan di yogyakarta itu dikarenakan  tidak sesuai dengan misi Sekaten sebagai suatu perayaan keagamaan. Terlepas dari perayaan sekatenan, namun dewasa ini banyak group dangdut yang disewa oleh berapa kalangan entah individu atau organisasi masih menggunakan cara-cara lama dalam pementasannya, hal ini dilakukan untuk menarik massa  dengan cara goyangan serta pakian yang terkesan seronok, sehigga menarik penontonnya untuk “nyawer” dengannya (berjoget dengan penyanyinya sambil memberikan uang secukupnya sesuai dengan kemampuan penjogetnya).

 

 

 

 

 

*Berbagai macam ragam penampilan musik dangdut dari musik dangdut panggung sampai ke gerobak, turut mewarnai perjalanan musik dangdut yang dekat dengan lingkungan rakyat kelas pekerja*

 

Dalam era globalisasi dengan segala macam teknologi yang ada di dalamnya, membuat kreatifitas para musisi untuk menghadirkan berbagai macam eksperimentasi dalam bermusik hingga melahirkan suatu warna baru dalam kanca pagelaran musik dangdut di tanah air. Dalam perspektif perekonomian kini  musik Dangdut telah menjadi sebuah lahan penggarapan yang subur dalam industri musik di Indonesia. Segala macam bentuk  hasil industri yang terlahir dari musik ini, tidak hanya menguntungkan bagi para penyanyi dan pemusiknya saja, akan tetapi juga termasuk para produser rekaman serta industri media khususnya televisi seperti MNC TV hasil jilmaan dari Televisi Pendidikan Indoesia yang telah diakuisisi oleh MNC Group itu, telah mengusung warna musik dangdut bagian dari program acaranya. Mungkin hal ini tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa keberadaan musik Dangdut yang dahulunya dikenal sebagai citraan musik pinggiran dimana segmentasi penonton hanya kalangan bawah saja, tetapi kini berbalik 180 derajat bahwa keberadaan musik Dangdut sudah merakyat dan dinikmati olah semua lapisan masyarakat, setelah Rhoma Irama dengan group Sonetanya itu telah berhasil menggebrak dan mempopulerkannya dengan berbagai macam versi itu, sehingga kini musik yang didominasi dengan suara kendang ini begitu eksis keberadaannya dari semua golongan bahkan sampai  “go international “. Hingga saat ini keberadaan musik Dangdut sudah mengakar dan merakyat dalam lingkungan masyarakat Indonesia, baik kalangan muda maupun tua. Keberadaan musik yang dalam penampilannya selalu bikin kaki atau kepala bergoyang itu selalu ramai dibanjiri oleh penonton untuk keperluan hiburan dalam penyelenggaraan suatu acara, mulai dari hajatan, ulang tahun organisasi, kampanye politik, kafe, karaoke bahkan dangdut keliling yang ditarik oleh gerobak masuk gang satu ke gang lainnya itu, telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia tidak hanya di perkotaan saja, akan tetapi sudah menjalar sampai ke pelosok desa.

 

 

 

 

*Berbagai macam pementasan musik dangdut dari ajang putri dangdut yang digelar oleh TPI sampai club-club karaoke turut mewarnai perkembangan musik dangdut dewasa ini yang dekat dengan lingkungan masyarakat dari berbagai macam kelas*

 

Keberadaan musik Dangdut telah dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat baik kalangan tinggi, kalangan menengah maupun kalangan bawah dalam lingkugan masyarakat Indonesia  hingga  kini, hal tersebut dikarenakan adanya kesederhanaan dan kelugasan dalam setiap liriknya yang diusung dalam setiap lagu, hal inilah menyebabkan lagu-lagu musik ini dikenal semua orang terutama kalangan bawah, karena tidak perlu berpikir panjang dalam menerjemahkan makna yang ada di balik lagu tersebut. Karakter ini memang cocok untuk kalangan masyarakat bawah sehingga keberadaan lagu  Dangdut mendapat tempat di hati mereka. Namun dalam perjalanannya itu setelah terjadi kolaborasi dengan beberapa lagu dari genre laing, sampai sekarang ini keberadaan jenis musik Dangdut telah diakui oleh masyarakat kalangan atas juga, tentu saja bagi mereka yang tidak tergila-gila dengan apa itu yang namanya “Gengsi” tetapi memang didasari dengan keinginan hatinya itu sendiri.  Bahkan prang nomor satujajaran pemerintahan Jawa Timur yang pada waktu itu menjabat Gubernur Jawa Timur yaitu Basofi Sudirman juga sebagai penyanyi Dangdut dengan lagu hit’snya berjudul “Tak Semua Laki-laki” yang telah sukses merebut hati penggemarnya. Dampak dari hal tersebut adalah disetiap kali kesempatan ada Basofi Sudirman , maka hadirin akan mendaulatnya untuk nyanyi. Dalam perjalanan hingga sekarang, musisi musik Dangdut terus memperbaiki citranya di mata masyarakat mulai dari lirik-lirik yang ditampilkan sampai aksinya di atas panggung atau stage. Meskipun demikian ada dari beberapa kalangan yang tetap saja menjual kenorakan dalam setiap penampilannya, hal tersebut dianalogikan hanya semata-mata mencari popularitas dirinya hingga menimbulkan sensasi besar di masyarakat, hingga namanya menjadi melambung… itu hanya strategi artis mengatrol dirinya agar populer di masyarakat, karena kemampuan yang dijualnya sebatas itu di dalam dirinya, sehingga segala macam komentar apapun yang ada tentang dirinya akan tetap diabaikannya…!!!. Lihat saja penampilan Uut Permatasari dengan goyangan muter-muter mngistaraykan orang yang berjalan lalu kakinya kena paku berkarat…auuu… dan Inul Daratista seoarng penynyi berasal dari Jawa Timur dengan goyang ngebornya… yang mengundang polemik berkepanjangan di masyarakat, akibat goyangannya yang begitu gusar membuat orang menjadi geger… , sampai-sampai MUI mengeluarkan Fatwa segala. Bahkan Rhoma Irama yang dianggap sebagai tokoh pengangkat citra musik Dangdut itu, ikut bicara dan membuat pernyataan sempat melarang inul untuk menyanyikan lagu-lagunya dalam setiap kesempatan dimanapun berada .

Sejumlah artis dan musisi dari genre musik lainpun kini mulai mencoba melakukan eksperimentasi dengan menggabungkan musik mereka dengan warna musik Dangdut. Ada juga Group beraliran lain yang menyisipkan beberapa lagu Dangdut hasil ciptaannya ke album mereka, hal ini sengaja dilakukan sebagai variasi musik mereka yang akan dirilisnya. Suatu contoh Group Band Rock kenamaan “Godbles” yang menampilkan lagu-lagunya beraliran rock atau metal, disisipi juga lagu beraliran Dangdut dan gambus dengan judul lagunya yang sempat meledak waktu itu dengan lagu “Sakia”. Tidak hanya disitu saja, para penyanyi POP juga ikut-ikutan pada mencoba berpindah ke lagu Dangdut seperti penyanyi Denada. Demikian juga untuk kategori group, kelompok Group musik seperti Project Pop, Slank, hingga Dewa 19 pun tidak segan-segan menyanyikan lagu dangdut baik di studio Televisi maupun di atas panggung terbuka dengan lantangnya. Dari Paparan di atas dapat ditarik benang merahnya, bahwa musik dangdut yang dulunya merasa terpinggirkan keberadaannya, kini musik ini telah menunjukkan esistensinya sebagai musik yang menyatu dengan lingkungan masyarakatnya. Hingga keberadaanya diterima dari semua kalangan baik kelas pekerja maupun tingkat direktur bahkan para pemilik perusahaanpun mencintai musik Dangdut dengan berbagai macam situasi dan kondisi di mana dia berada. Tidak tanggung-tanggung, musik yang katanya kampungan dan untuk kalangan bawah ini sudah merambah ke Negara Amerika, betapa tidak, Negara Paman Sam teleh menggelar bertajuk “Dangdut In America” dan seorang pemenang telah terpilih. Al hasil bahwa pemenangnya itu adalah Pria berkulit hitam asal Amerika Serikat, Arreal Hank Tilghman telah berhasil menjuarai hajatan dangdut tersebut. Kemenangannya ini sekaligus membukukan rekor “Penyanyi Dangdut Asing” asal Amerika pertama, dan mendapat penghargaan dari MURI atas prestasi yang telah diukirnya. Hal ini juga membuktikan bahwa musik dangdut kini diterima berbagai macam lingkungan masyarakatnya dari berbagai kelas ekonomi dan status sosialnya, bahkan sampai meranda tingkat dunia, sungguh prestasi yang mengagumkan, bagi musik asli Indonesia yang bisa diterima oleh masyarakat manca negara. Kalau toh ada masyarakat Indonesia yang alergi mendengar musik dangdut…, itu dikarenakan dalam dirinya tertanam jiwa gensi hasil lansiran budaya populer, sehingga gayanya sok kebarat-baratan, padahal makanannya telo senggreng lan kelanthing…weee…makan… tu…gengsi…sampai kenyang…!!!

 

 

 

 

 

*Pementasan KDI oleh TPI sebagai ajang untuk mencari bibit-bbiit baru penyanyi dangdut dan lantunan suara Ahmad Albar dengan lagu Sakia memberikan warna baru dalam penyajian rilis album serta Project P yang merubah lagunya dari POP ke musik dangdut*

 

1. Konstruksi Lirik dalam Musik Dangdut dan peralatannya

Meskipun lagu-lagu dangdut dapat menerima berbagai unsur musik lain secara mudah, bangunan sebagian besar lagu dangdut sangat konservatif, sebagian besar tersusun dari satuan delapan birama 4/4. Jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 3/4, kecuali pada beberapa lagu masa 1960-an seperti Burung Nuri dan Seroja. Lagu dangdut juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai musik pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop. Intro dapat berupa vokal tanpa iringan atau berupa permainan seruling, selebihnya merupakan permainan gitar atau mandolin sedangkan suara kendang sebagai background dari lagu yang dikumandangkan. Panjang intro dapat mencapai delapan birama. Lagu dangdut standar tidak memiliki refrain, namun memiliki bagian kedua dengan bangunan melodi yang berbeda dengan bagian pertama. Sebelum memasuki bagian kedua biasanya terdapat dua kali delapan birama jeda tanpa lirik (interlude). Bagian kedua biasanya sepanjang dari dua kali delapan birama dengan disela satu baris jeda tanpa lirik. Di akhir bagian kedua kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama. Lirik bagian kedua biasanya berisi konsekuensi dari situasi yang digambarkan bagian pertama atau tindakan yang diambil si penyanyi untuk menjawab situasi itu.

 

 

 

 

 

*Peralatan yang mendukung atas terselenggaranya pementasan musik dangdut baik yang berskala besar maupun berskala kecil*

 

2. Musik Dangdut di Tengah  Masyarakat Berbudaya   Kontemporer

Dangdut, sebuah kata yang menggambarkan tentang suatu jenis musik yang didominasi dengan suara kendang bertbi-tubi dipadu dengan tiup seruling serta detingan melodi mengantar kita untk selalu menggerakkan badan, entah kepala manggugut, badan bergoyang-goyang atau kaki berdansa kesana-kemari tanpa sadar kita dibuatnya tatkala kita sedang melihat konser dangdut dalam hajatan Pak Wakidun Bin Gufron sedang menikahkan anaknya itu. Rangkaian kalimat itu, merupakan penjabaran sekelumit tentang esistensi musik dangdut di tengah masyarakat Indonesia. Kehadiran musik ini ditengah masyarakat merupakan salah satu jenis musik yang sangat membumi di kalangan masyarakat Indonesia. Betapa tidak, keberadaan musik ini telah melekat erat dalam lingkungan masyarakat Indonesia dari semua lapisan dan tingkat sosial masyarakat. Sebenarnya sejak awal kemunculannya, jenis musik ini hanya diperuntukkan untuk kelas atau kalangan tertentu saja yaitu kalangan masyarakay bawah. Namun pada perkembangannya justru terbalik, musik ini mendapat apresiasi yang luar biasa dari semua kalangan, terutama yang fanatik dengan lagu ini adalah kelas pekerja keras. Hal ini mungkin dikarenakan dangdut merupakan jenis musik yang ringan disertai dengan lirik lagu yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga penikmat musik ini tidak harus memutar otak untuk memahami maksud dari makna yang tergambar dari lagu tersebut. Hingga kini penikmat musik Dangdut bisa menjangkau dari mulai  kalangan atas dalam kelompok-kelompok elite sampai masyarakat pinggiran gubuk reot yang ada dipinggir kali serta pingiran rel kereta api, semua mengenal dan tak asing lagi dengan jenis musik yang suka mengantar kaki kita bergoyang-goyang ini. Musik Dangdut dipopulerkan oleh penghibur  terkenal di Indonesia, sejak periode pasca Soekarno, yaitu antara  tahun 1975-1981 dan pertunjukan musik Dangdut kala itu mempunyai pengaruh yang sangat besar  dalam kehidupan masyarakat Indonesia hingga musik ini telah menjadi bagian dari budaya Indonesia.

Bentuk musik ini awalnya berakar dari musik Melayu  pernah beredar pada era tahun 1940-an. Kemudian sejak tahun 1970-an keberadaan musik Dangdut dibangkitkan oleh Rhoma Irama dengan melakukan modifikasi jenis musik lain hingga menghasilkan berbagai macam versi hasil persilangan dari berbagai macam aliran, diantaranya rock yang berkembang era itu hingga Rhoma Irama berhasil mengangkat musik yang tadinya berada dari kalangan pinggiran, kini bisa menembus kalangan yang beraneka ragam karakter itu. Rhomalah yang pertama mengangkat musik Dangdut beraviliasi dengan musik lainnya hingga Rhoma bisa melahirkan album Rock Dangdut Indonesia penulispun menyukainya khususnya lagu eee…lari pagi…tua muda semua…eee…terusno dewe…!!!. Beberapa aliran musik yang bisa menyatu dengan musik ini diantaranya adalah keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, jazz, disco bahkan samapai ke house musik segala…weee…nyaingi…dugem… Dalam pengembangannya berbagai macam karya-karya hasil kolaborasi baik ditingkat invividu penyanyinya maupun group band, dan ini akan terus berkembang mengikuti berjalannya waktu dan seiring dengan  situasi dan kondisi lingkungannya di mana musik itu menyatu dengan lingkungann masyarakatya.

 

 

 

* Berbagai macam warna-warni keragaman music dangdut dari gaya penyanyinya, liriknya serta lingkungan masyarakatnya turut mewarnai perjalanan musik dangdut dalam kanca berkembangnya musik genre lain di indonesia *

 

3. Perjalanan Musik Dangdut, Awal di Pinggiran dan Kini Menembus trend Center

Kemunculan Musik Dangdut awalnya dikumandangkannya Orkes Melayu (biasa disingkat OM, sebutan yang masih sering dipakai untuk suatu grup musik dangdut) yang asli menggunakan alat musik seperti gitar akustik, akordeon, rebana, gambus, dan suling, bahkan gong. Kemunculannya sekita tahun 1950-an dan 1960-an seperti orkes-orkes Melayu di Jakarta yang telah memainkan lagu-lagu Melayu berasal dari daerah Deli dari Sumatera Utara atau sekitar kota Medan. Pada masa ini mulai melakukan eksperimen berkaitan dengan masuknya pengaruhbudaya dari India. Perkembangan dunia sinema pada masa itu dan politik anti-Barat yang diperlakukan oleh Presiden Sukarno, menjadi pupuk bagi perkembangan yang ada di dalam grup-grup ini. Dari masa kebangkitan musik Dangdut ini, tercatat nama-nama seperti P. Ramlee (dari Malaya), Said Effendi (dengan lagu Seroja), Ellya Khadam (dengan gaya panggung seperti penari India, sang pencipta Boneka dari India), HuseinBawafie (salah seorang penulis lagu Ratapan Anak Tiri), Munif Bahaswan (pencipta Beban Asmara), serta M. Mashabi (pencipta skor film “Ratapan Anak Tiri” yang sangat populer di tahun 1970-an). Dengan keberadaannya itu pada periode berikutnya musik beraliran Dangdut ini akan melambung seiring dengan masuknya budaya-budaya barat ke Indonesia hingga nantinya berkolaborasi menghasilkan versi barunya musik Dangdut.

 

 

 

* Para penyanyi Orkes Melayu Pertama di Indonesia sebagai generasi awal munculnya warna musik Dangdut *

 

Gaya bermusik orkes melayu masa ini masih terus bertahan hingga tahun1970-an, walaupun pada saat itu juga terjadi perubahan besar di kancah perjalanan musik di Indonesia, terutama lagu-lagu jenis musik Rock yang dimotori oleh Log-Zhelebour dengan menyelenggarakan pementasan musik Rock di Indonesia bersama dengan pementasan tersebut, Log-Zhelebourpun mengajak perusahaan Jarum yang terkenal dan laku di kalangan hati kaum muda kala itu adalah Jarum Super. Oleh karenanya pada setiap pementasan panggung musik Rock logo jarum super bertebaran disekitar lapangan yang di jadikan panggung terbuka sebagai ajang pementasan para group band yang akan bermain, termasuk memasukkannya dalam cover kaset para group rock dengan rilis albumnya, yang sempat ditanganinya. Dari tangannya itu, maka lahirlah group-group band berikutnya setelah Godbles, diantaranya adalah Boomerang, Andromeda, Grass Rock serta nama-nama lainnya. Dari perkembangan yang dasyat itu, dapat dilihat dampaknya yaitu musik rock digandrung  oleh sebagian anak muda negeri ini. Dari fenomena ini, maka Rhoma Irama menangkap sinyal atas kemauan anak muda, hingga Rhomapun menggarap musiknya ke arah Rock hingga lahirlah genre musik baru dalam perjalanan musik Dangdut di masyarakat sampai hadirnya ”Rock Dangdut” dengan bendera Group Band Sonetanya. Segala macam upaya yang diperjuangkan oleh Rhoma Irama beserta Soneta Group-nya bukan cuma merupakan pembelaan terhadap eksistensi musik Dangdut itu sendiri, tetapi Ia juga melakukan penggayaan musikal dengan memasukkan unsur heavy metal, sambil sekalian memperluas publiknya di dalam setiap kesempatan. Kehadiran Soneta pada waktu itu…tidak hanya pemuda-pemuda pinggiran saja yang menikmatinya, akan tetapi juga generasi muda perkotaan yang kala itu tergila- gila pada musik Rock sebagai bagian dari citra diri pemuda kala itu yang telah terbius budaya sok kebarat-baratan…padahal makanannya yo…tempe bacem…, begitu ujar salah satu pemuda yang tak termakan oleh budaya barat yang berkembang pesat kala itu. Lebih dari itu, ia pun kemudian “mengislamkan” musik Dangdut atas bendera Soneta Group, dan menegaskan bahwa kelompok Soneta-nya sebagai Sound of Moslem. Maka, ketika musik Dangdut makin berkibar di tengah kalangan masyarakat Indonesia, melalui ratusan ribu keping kaset rekaman dan pentas-pentasnya di segenap penjuru wilayah Indonesia, maka Rhomapun dinobatkan sebagai “raja”-nya.

 

 

* Kesuksesan Rhoma Irama dalam mengemas musik dangdut dengan berbagai macam karakter dan situasi yang ada, membuat group Soneta ini sampai sekarang masih esis di kalangan penggemarnya*

 

Sukses besar dari Rhoma Irama ini, mak pada era tahun 1971 – 1985 telah memancing banyak orang untuk menekuni musik dangdut. Dangdut yang tadinya hanya digemari oleh kalanagn pinggiran saja, kini penggemarnya sudah mewabah ke berbagai tempat termasuk perkotaan. Berbagai macam show yang dilakukan oleh kelompok Soneta telah mengalami kesuksesan besar. Hampir show yang dilakukan group ini diberbagai kota besar Indonesia massa yang hadir membludak. Bisa dipastikan musik dangdut kelompok dari Soneta ini menyaingi konser-konser rock yang diselnggarakan oleh Log-Zhelebour kala itu dengan group-group pilihannya seperti Godbles, Power metal, Elpamas. Andomeda serta Festival Rock Se Indonesia yang setiap tahun diadakan. Dampak yang ditimbulkan dari kejadian ini adalah ”perang konser” ditengah masyarakat antara musik Dangdut dengan musik Rock. Di mana massa yang diincar pada konser ini adalah kalangan muda, tetapi Rhoma Irama bersama Sonetanya dapat menjaring kalangan tua. Karena musik dangdut sudah digandrungi oleh kalangan masyarakat baik tua maupun muda, maka ditinjau dari sudut ekonomi atau profesi penyanyi dandut sangat menjanjikan, lahirlah group-group musik dangdut menyaingi Soneta Group yang telah mempolerkan lebih dulu dalam blantika musik Dangdut bahkan dalam perjalanannya hanya Soneta yang sampai sekarang Dari sekian group musik dangdut yang masih eksis di masyarakat, selain itu juga ada yang mau menyaingi gaya Soneta seperti Groupnya Mara Karma yang berpenampilan kribo kayak “duo kribo” itu. Group musik dangdut yang personelnya cewek semua juga ada yaitu  Groupnya Kendedes dari kota Malang. Muncul juga penyanyi-penyanyi dangdut lainnya diantaranya Masyur. S, ElVy Sukesih, Herlina Effendi, Arafiq, Muksin Alatas, Camelia Malik, Ida Laila, Rita Sugiarto, Ona Sutra. Masing-masing penyanyi mempunyai karakter sendiri-sendiri antara satu dengan yang laiannya, seperti Ida laila mempunyai ciri khas lagu-lagunya sendu dan diwarnai iramanya pelan, Sedangkan Arafiq berkarakter ceria penyanyinya menari-nari mirip gaya india. Adapun Muksin Alatas memilih karakternya pelan sendu, mirip gaya ida laila. Sementara itu masyur. S lebih memilih  berkarakter mencakup semua irama bisa pelan, sedang dan juga bisa cepat mirip Arafiq demikian juga dengan penyanyi yang berkarakter kacama mirip gaya elton jon yaitu Ona Sutra yang terkenal dengan hitsnya Bola. Para penyanyi ini terus bertahan hingga tahun1990, hanya Mansyur, S  Elvy Sukesih dan Rita Sugiarto serta Camelia Malik yang bisa eksis di blantika musik dangdut sampai tahun 2000.

 

 

 

 

 

 

 

* Kemunculan penyanyi generasi dangdut berikutnya setelah musik dangdut mendapat sambutan masyarakatnya, membuat warma musik dangdut bergam karakter yang di bawakan oleh penyanyinya sebagai karakter diri mereka*

 

4. Musik Dangdut mulai menembus Perfilman Indonesia

Setelah berkibarnya musik dangdut denga berbagai macam karakter serta warnanya tersendir di pasaran, dimana pada setiap konser serta merilis album-album mereka mengalami kesusksesan yang luar biasa, pada era 1985 sampai 2000 beberapa Group serta perorangan mencoba membuat film yang dikaitkan dengan musik Dangdut sebagai latar cerita dan back soundnya, seperti yang dilakukan Oleh Soneta Group ini, dengan beberapa filmnya ”Satri Bergitar”, ”Berkelana”, ”Nada dan Dakwa” serta film-film lainnya. Hal ini mencerminkan, bahwa musik dangdut kini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat serta kebudayaan Indonesia yang telah merakyat itu. Pada hal era itu perfilman nasional diserbu dengan film-film sex yang lagi laris dipasaran. Rhoma orang yang melawan arus dalam menciptakan film musikal tersebut. Tetapi di luar dugaan bahwa filmnya Rhoma Irama bisa menembus pasar dan menguasai massa sebagai sasaran filmnya itu. Keadaan ini bisa dilihat dari setiap Filmnya Rhoma Irama yang mengusung Irama dangdut di setiap filmya, turut meramaikan dalam kanca perfilman Indonesia yang sedang boming dan sukses penyelenggaraan pemutaran filmnya. Orang-orang yang ada di perkampungan di berbagai sudut desa ramai-ramai memakai truks, pikc-up untuk melihat filmnya Rhoma itu. Kesuksesan film yang ditampilkan Rhoma Irama ini dimanfaatkan oleh beberapa peroduser film untuk menggandeng penyanyi dangdut dalam pembuatan film produksinya seperti penyanyi Arafiq dengan Filmnya yang berjudul ”Karena Dia”. Kesuksesan filmnya Rhoma Irama secara tidak langsung memberi warna baru di Perfilman Indonesia yang kala itu di dominasi film-film seks yang mengumbar aura pada setiap adegan. Rhoma Irama memberikan warma lain pada film Indonesia dan hal itu merupakan suatu tindakan yang dianggap berani menetang arus dari keadaan yang sudah membudaya di tengah masyarakat Indonesia. Group Musik dangdut dari kalangan mahasiswa yaitu PSP (Pancaran Sinar Petromaks) yang bergelut dalam musik dangdut yang dikomedikan itu juga menarik kalangan anak muda. Karena kesuksesan dari lagu-lagunya yang lucu itu, akhirnya ditawari main dalam film oleh salah satu produser hingga group ini melahirkan film yang diselingi dengan musik dangdut juga. Apa yang telah dilakukan oleh Group Soneta, tak terpikir oleh Rhoma Irama bahwa film yang dihadirkan mendapat sambutan yang luar biasa dari kalangan masyarakat luas.

 

 

 

 

* Film-film yang mengusung lagu dangdut adalah film-film yang diproduksi serta dimainkan oleh Rhoma Irama beserta groupnya Soneta. Dari sinilah kemudian film-film bernuansa musik dangdut mulai muncul seperti Arofiq *

 

5. Musik Dangdut Berkolaborasi dengan musik lainnya

Seiring dengan membanjirnya musik-musik warna lain di lingkungan masyarakat Indonesia terutama masyarakat perkotaan. Fenomena ini tak terlepas adanya transformasi budaya dari pengaruh budaya dari bangsa lain yang menerjang Indonesia melalui beragam media diantaranya koran, majalah, televisi serta film asing. Fenomena ini merupakan suatu konsekuensi dari modernisasi bangsa yang melanda negeri ini. Dampak yang ditimbulkan adalah menggejalanya gaya hidup modern yang tumbuh subur di masyarakat perkotaan, dengan mengusung gaya hidup budaya asing pada setiap aktifitasnya. Seni musikyang dianggap sebagai pengiring keceriaan hidup manusia tak lepas dari derasnya pengaruh modernisasi hingga lahirlah genre musik seperti Jazz, bosanova, Metal, disco, reggae, klasik atau yang sudah tumbuh sebelumnya Rock, Bluse, dan Pop melalui kelompok-kelompok pementasan yangdslenggarakan oleh komunitasnya sendiri. Dampak dari fenomena yang tercermin dalam tingkah laku dari komunitas musik yang diusungnya itu, melahirkan suatu wacana tentang mana musik elit…?, mana musik modern…? dan mana musik kampungan…?. Musik Dangdut inilah yang dianggap oleh kalangan elit kelompok-kelompok sosial menengah ke atas dikatakan “musik kampungan”, “deso” dan ” kuno”, meskipun pendapat itu dipatahkan oleh keberadaan dari “Soneta Group” pimpinan Rhoma Irama yang telah sukses dalam setiap pementasannya di berbagai kota dan keberadaannya telah diakui oleh masyarakat Indonesia. Munculnya modernisasi di Indonesia membuat musisi-musisi Indonesia mencoba mengabungkan beberapa genre lokal Indonesia seperti dangdut, keroncong, serta musik daerah seperti musik jawa dengan musik-musik yang berasal dari budaya asing. Hasil kolaborasi antara musik dangdut dengan beberapa genre musik modernpun bermunculan dengan menghadirkan dan memunculkan penyanyi baru sebagai penyanyi dangdut generasi selanjutnya, seprti nama-nama Anis Marcella dengan memadukan unsur musik dangdut dengan musik disco hingga lahirlah genre ”Disco Dangdut”. Kesuksesan Anis Marsela diikuti dengan penyanyi lainnya seperti Merry Andani dan Lilis Karlina. Sementara Ice Trisnawati yang namanya melambung di populerkan  oleh edy Sud dalam acara Aneka Ria Safari atau Kamera Ria yang disponsori oleh Dipen ABRI kala itu, mendendangkan lagu dangdut yang dipengaruhi oleh kesenian daerah jawa barat degung dan kecapi. Warna lain lagi adalah kolaborasi kesenian jawa dengan Dangdut yang melahirkan lagu-lagu dalam kelompok “Campur Sari”. Sebuah kelompok Campur Sari merupakan suatu kelompok musik yang berasal dari kalangan masyarakat Kunung Kidul Daerah Istimewah Yogyakarta, dimana para musisinya sering bereksperimen dengan menggabungkannya kesenian jawa dengan berbagai genre musik lain seperti disco, jazz, keroncong, dangdut, pop, rock menjadi suatu komposisi yang menarik hingga sampai kini keberadaan kelompok ini tetap eksis di semua kalangan masyarakat Indonesia. Sementara Rhama Aipa mencoba menggabungkan lagu Keroncong dengan dangdut dan disko lewat lagu yang terkenal “Dinda Bestari” dengan didukung pakaian khasnya.  Dalam waktu yang bersamaan  Penyanyi Hamdan HTT , Meggy. Z, Evy Tamala, Ine Sintiya, Ike Nurjanah dan leo Waldy memilih meneruskan gaya penyanyi sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

* Para penyanti Dangdut generasi modern yang lagu-lagunya cerminan hasil kolaborasi antara genre musik dangdut dengan jazz, disco, metal, reggae serta musik daerah yang keberadaannya diterima sebagian besar oleh masyarakat Indonesia *

 

 

 

 

 

 

 

 

* Para penyanti dangdut lain yang tidak terpengaruh dengan kolaborasi musik yang sedang bergejolak waktu itu, dan mereka tetap menyanyi dengan melanjutkan warna musik dangdut yang dipolerkan oleh penyanyi sebelumnya*

 

6. Asli Musik Indonesia, Tumbuh di Lingkungan Budaya Sendiri

Menganalogikan Musik Dangdut sebagai Musik Asli Indonesia, maka perlu adanya upaya untuk  menanamkan selera musik tersebut pada setiap jiwa insan negeri ini secara mendalam. Segala macam apapun pendapat yang terlontar, dan dalam situasi bagaimanapun juga, pada kenyataanya keberadaan musik dangdut tak terpisahkan dari nadi kehidupan lingkungan masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dicermati dari setiap fenomena yang muncul di masyarakat seperti pada acara kegiatan tertentu entah itu acara panggung politik, organisasi sosial, lingkungan perusahaan, cafe, restoran, diskotik, warung emperan jalan, hajatan perkawinan, reunian, sunatan, sampai ke warung remang-remang yang ada dipinggiran kali warung doyong itu, semua memerlukan keceriahan musik dangdut sebagai pengiring aktifitasnya. Sehingga tidaklah berlebiham bila musik dangdut didekatkan pada sosial kultur budaya Indonesia yang tumbuh dan berkembang di lingkungannya sendiri dari jaman ke jaman, dengan segala dampak perubahan warna musiknya, sebagai akselerasi dari transformasi budaya yang berkembang dalam rangka memodernisasi negeri ini. Sehingga sebuah perkataan bahwa musik dangdut adalah cerminan budaya alsi Indonesia adalah wajib ditanamkan pada diri seseorang atau insan negeri ini, kalau masih merasa sebagai waraga negara Indonesia. Misalkan suatu ketika Anda harus bejar ke luar negeri dan kebetulan pilihan anda jatuh di sebuah universitas kenamaan di Ingris dan tepatnya di kota london. dan ditanya salah mahasiswa dari Italia yang kebetulan sekolahnya sama dengan anda ,  dan dia berkata kepada anda”what’s music of our country?”, Anda tak mungkin menjawab, Metal, Rock, Jazz, Clasics atau Reggae, kecuali di pikiran anda terbius oleh ideologi budaya asing, atau otak anda gila dikarenakan tertanam ideologi komunitas Jazz atau metal lingkungan di mana anda beraktifitas. Bagi orang yang mengaku berbudaya Indonesia serta merasa dirinya bagian dari Warga Negara Indonesia, tentu menjawabnya dengan kata ”dangdut is the music of my country !” jawaban itu baru jelas dan mengena kalau toh anda masih menganggap asli orang Indonesia tulennn…!!!.

Pada bagian sejumlah orang atau komunitas di negeri ini, masih menggagap musik dangdut ingin diletakkan pada posisi marginal dalam kancah heterogenitas musik modern di tanah air ini. Entah mengapa, bahwa persepsi yang terlontarkan dalam pikirannya menganggap, bahwa musik dangdut adalah musik “kampungan”, “deso”, “kuno”, ketinggalan jaman, jorok, tidak up to date serta sederetan kata-kata yang menurunkan derajat musik yang pada kenyataanya telah merakyat di kalangan masyarakat luas di Republik yang sedang diperangi dengan berbagai macam ideologi ini. Apa yang di kataka oleh sebagian orang itu, kini pada kenyataanya berbanding terbalik dengan situasi yang ada. Hal ini dapat dibuktikan bahwa musik dangdut sebenarnya sudah dari awal telah ditanam secara luas di hati masyarakat,  bahwa musik ini telah menyatu dengan lingkungan masyarakat Indonesia dan sampai kapanpun akan selalu melekat dalam masyarakatnya,  Lihatlah setiap pementasan layar tancap pada era melambungnya film Rhoma Irama terus diputar di berbagai dareah kala itu. Hingga sampai kinipun ketika masyarakat memperingati hari 17 Agustusan panggung dangdut tentu sebagai penutup acaranya. Demikian juga pada seorang yang katanya anggota Group Band musik metal dengan kelompoknya menghadiri acara perkawinan salah satu personilnya itu, telah menyewa organ tunggal dengan lantunan musik dangdut salah satu lagunya Masyur.s di tengah gemuruhnya acara perkawinan yang dihadiri oleh para musisi metal, rock dan jazz serta anehnya mereka minta tambah lagi lagunya Rhoma Irama dengan hitsnya Lari Pagi. Suatu kelompok yang katanya metal itu, telah terbui dengan lantunan lagu yang dibawakan oleh para penyanyi, dalam suasana makan prasmanan, dan tanpa sadar kakinya bergoyang naik turun dan putar kiri putar kanan. Kalau sudah begitu apakah dia sebagai seorang pengagum Metal atau Rock ataupun juga Jazz sejati…heeiii… ?.

Mendekatkan musik dangdut pada massa strata kalangan bawah juga ada benarnya, tetapi ketika mendeskreditkan “Musik Dangdut” adalah “Musik Kacangan” dan menempatkan dia pada posisi “Musik Ecek-Ecek ” yang tidak bermutu,  adalah suatu pernyataan yang luar bisa “kengawurannya” dan tidak dapat dipertangung jawabkan kebenaranya… dan itu berarti pemikiran yang Goblok…!. Kalau untuk orang Jawa Timur pandangan itu dikatakan ”Ngomong, waton jeplak aaaeee…”. Harus diakui bahwa keberadaan musik dangdut dengan segala keragaman warna hasil kolaborasi dengan musik lainnya membuktikan bahwa musik dangdut juga bisa diterima oleh kalangan mana saja. Kelompok-kelompok group band lainnya misalnya dewa, raja, peterpen dalam albumnya atau pada panggung tertentu memainkan dan melantunkan lagu dangdut. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, kita harus menghargai musik dangdut sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Karena pada kenyataanya kita tak terlepas dari keberadaanya yang setiap saat kita perlukan guna mewarnai kehidupan kita. Semua itu tergantung pada diri kita bagaimana kita bisa menyikapinya dengan bijak tat kala lagu ini diputar, didengar dan ditonton di sekitar lingkungan kita berada.

Jangan sampai kita membabi buta dengan musik-musik hasil lansiran dari kebudayaan barat… sebgai gaya hidup modern…, sehingga melupakan musik dari negerinya sendiri…dan seandainya “Bangsa lain mengakui… atau mengklaim bahwa Musik Dangdut adalah Asli dari negaranya…”,… “barulah marah-marah dan ramai-ramai berjuang…” …… Lhooo…. kemana saja… selama ini…!!!… “dasar Jiwa-Jiwa Sontoloyo…!!!”.

 

 

* Keberadaan “Musik Dangdut” akan selalu mengikuti perkembangan jaman seiring dengan derasnya arus globalisasi yang berujung terbentuknya “Transformasi Budaya”, sepanjang tidak merusak budaya aslinya, kita turut mendukungnya*

 

Tags:

Leave a Reply

*