BANGSA BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI BUDAYANYA SENDIRI

HAKEKAT SENI DAN PERANNYA DALAM MASYARAKAT

HAKEKAT SENI DAN PERANNYA DALAM MASYARAKAT

Tinjauan Peran Seni dalam Perspektif Audio Visual

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Abstraks

Televisi dan Film dapat dikatakan bagian dari karya seni dalam perspektif karya ”audio visual”. Keberadaan karya televisi dengan keragaman bentuk dalam penayangannya itu sangat pesat perkembangan teknologinya serta perannya dalam suatu kehidupan masyarakat baik dari aspek hiburan, penyampaian informasi dan sebagai sarana pendidikan yang efektif bagi terbangunnya kecerdasan masyarakat, hingga kedudukannya samapai menempati peringkat tertinggi atas rispon dari masyarakat terhadap bentuk karya seni seperti ini, dibandingkan dengan karya seni lainnya. Televisi sebagai salah satu kolaborasi seni rupa atau visual dengan berbagai macam teknologi informasi dalam perancangannya hingga menghasilkan suatu deretan gambar berilusi yang sanggup memberikan penerangan kapada masyarakat sehingga kehidupan yang tercipta menjadi lebih hidup dengan kualitas lebih baik dari sebelumnya. Televisi juga dinilai oleh masyarakat sebagai kotak ajaib yang dapat mempengaruhi sugesti masyarakat hingga melahirkan suatu dampak entah itu baik ataupun buruk, hal itu dikarenakan selain media elektronik ini memberikan informasi secara aktual dan faktual,  juga menyajikan acara yang sifatnya menghibur. Televisi sebagai suatu perusahaan industri budaya dan menganut sistem kapitalisme, oleh karena itu dalam pengoperasiannya, televisi berusaha mempengaruhi pemirsa dengan menanamkan ideologinya ke benak para pemirsa melalui beragam tayangan yang sudah dikonstruksi sedemikian rupa hingga pemirsa tidak dapat berkutik dan bertekuk lutut pada acara-acara yang sengaja diciptakan dengan “segala cara” demi meningkatnya eksistensi industri televisi itu sendiri dalam mendatangkan rating tingggi. Demikian juga dengan keberadaan film yang akhir-akhir ini menyajikan sebuah runutan cerita dalam pengemasan kehidupan glamour, kemistikan, keklenikkan dengan bumbu kemesuman telah beredar luas di tengah masyarakat. Televisi dan film pula yang dianggap sebagai dalang dan sekaligus provokator atas retaknya budaya luhur bangsa ini ke dalam taraf lebih rendah dengan  masuknya budaya asing ke dalam programnya  sampai rakyatnya sendiri melupakan keeksistensinya bugaya lokal sebagai jatidiri bangsa Indonesia. Lewat tayangannya budaya impor yang telah dikonstruksi itu, telah menawarkan budaya baru sekaligus budaya modern sebagai hasilnya melahirkan replika kehidupan budaya barat dengan keglamoran hidup dalam lingkungan masyarakat kapitalis telah menguasai jam-jam penayangan dimana masyarakat menggantungan hiburan dari peran sertanya itu. Hegemoni budaya yang tercermin dalam realitas kehidupan dengan praktik-praktik di dalamnya adalah dampak dari produk medianya, dan kini telah mengambil alih budaya luhur dan norma kesantunan yang sudah mapan warisan dari nenek moyang ketika bangsa ini didirikan dan digantikan dengan pola hidup awut-awutan yang menjunjung tinggi arti kebebasan dalam pernik-pernik kemewahan dan keglamouran hidup sampai melahirkan peradaban setannn…alasss… !!!.

 Kata Kunci : Seni,Televisi, Film, Ideologi, Hegemoni, dan Gaya Hidup

Pendahuluan

Suatu ketika komponen bangsa ini sedang mempersiapkan perayaan ”tujubelasan” yang sudah mendarah daging bagi setiap insan negeri ini untuk memeriahkan hari ulang tahun negaranya yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka berbagai macam kegiatan yang bertujuan menyemarakkan HUT RI tersebut tersebar luas diseluruh daratan wilayah negeri ini, dan kalau dilihat dari udara Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau itu seakan-akan menampakkan sang dwi warna yaitu merah putih diatas lautan yang membiru. Bentuk aktifitaspun beragam  dilakukan, mulai dari pembersihan lingkungan dengan pengecatan pagar, pembuatan gapura dengan berbagai macam bentuk yang menarik perhatian, pemasangan bendera merah putih disepanjang jalan, pembuatan umbul-umbul, slogan dalam bentuk spanduk, lomba-lomba seperti makan kerupuk, lari karung, pawai mobil hias, karnaval yang menampilkan bermacam-macam adegan dimulai dari pakaian yang formal sampai yang ndagel dan awut-awutan, Ekspresi teriakan puisi kemerdekaan disusul dengan tarian tradisional oleh generasi muda dan diakhiri dengan pementasan orkes dangdut sebagai puncak dari rangkaian kegiatan dalam panggung penutupan HUT RI. Apa yang mereka lakukan dengan warna suka cita itu semata-mata untuk mewujudkan kecintaan dari tanah airnya. Terselenggaranya  semua hal itu, tidak lain adalah berkat peran seni sebagai unsur pembentuk dalam mewujudkan sesuatu yang ”nyata” dari lahirnya sebuah ”ide”, dalam rangka menunjang suatu proses kehidupan ke arah lebih baik. Begitu dekatnya peran seni dalam kehidupan masyarakat, sehingga segala ide yang lahir untuk melengkapi warna-warni kehidupan masyarakat dengan kualitas ke arah lebih baik dan hasilnya bisa diwujudkan secara nyata dihadapan berbagai macam lapisan masyarakat bahkan kehadirannya dapat dinikmati dengan mata telanjang sekalipun oleh setiap orang yang melihatnya.

Seni adalah ”kegiatan untuk menciptakan sesuatu yang dapat dipahami oleh perasaan manusia: bentuknya dapat berupa lukisan, patung, arsitektur, musik, drama, tari, film, dan sebagainya” (Langer, 1994). Pernyataan ini dapat diasumsikan bahwa karya seni pada dasarnya adalah hasil ciptaan karya manusia yang memuat segala macam obsesi atas penglihatan terhadap fenomena alam yang ada di sekitarnya, dan dalam eksekusinya diperlukan suatu keahlian khusus seperti hasrat seni atau jiwa seni dari sang pencipta termasuk cara pengolahan unsur-unsur yang menyertainya, hingga orang lain yang melihat dapat menikmati dan merasakan apa yang menjadi obsesi dari seniman atau sang pencipta tersebut. Dalam mewujudkan hal tersebut, tentu perlu adanya suatu media atau medium sebagai penjelas dari makna seni yang akan ditampilkan, hingga hasilnya nanti dapat dirasakan oleh orang lain sebagai penikmatnya. Beragam medium seni telah  lahir dari ide para kreatornya hingga hasilnya nanti membentuk suatu klasifikasi tersendiri dari setiap karakter yang akan ditampilkan atau divisualisasikan kepada masyarakat sebagai penikmatnya seperti seni tari, seni musik, seni karawitan, seni rupa-desain dan seni teater, dimana kesemuanya itu akan selalu bersinggungan dengan proses kehidupan manusia dalam melahirkan peradaban dunia.

Kata seni teater dimana dalam operasionalisasinya dipentaskan secara langsung serta dinikmati selama berlangsungnya pementasan itu, oleh orang-orang khusus akan dikembangkan lagi dengan bantuan peralatan teknologi perekaman gambar bergerak berikut suaranya dan hal ini bisa diciptakan di masa era modern melalui peralatan teknologi kamera film ataupun teknologi kamera video hingga bisa menghasilkan suatu rekaman illustrasi sebagai hasil duplikasi menyerupai dari aslinya. Hasil rekaman itu merupakan suatu penggambaran dari suatu peristiwa asli dengan perkayasaan pengadegannya hingga mengandung runutan alur cerita berdasarkan rancangan yang telah dibuat sebelumnya hingga menghasikan suatu cerita utuh  dimana tadinya hanya sekedar dilihat secara langsung dalam pementasan terbuka, kini dapat dialihkan dengan media perekaman dan hasilnya dapat dilihat kembali setelah dilakukan pengeditan atau perekayasaan gambar dengan menyertakan beberapa efek khusus di dalamnya sampai akhirnya lahirlah sebuah karya film yang bisa ditonton setiap waktu secara berulang-ulang dan kehadirannya dari waktu ke waktu akan mengalami teknik penyempurnaan seiring berkembangnya perangkat teknologi sebagai alat perwujudannya hingga menghasilkan karya-karya spektakuler yang tak akan terbayangkan oleh kita pada keadaan sebelumnya dan  sampai kini keberadaanya makin disukai oleh semua lapisan masyarakat.

Dalam perspektif karya ”Audio Visual”, hakekat seni semakin nyata dibutuhkan dalam proses berjalannya suatu kehidupan di masyarakat dan para kreatornya akan selalu dituntut untuk lebih kreatif dalam menciptakan karya-karya ke arah lebih dinamis dan atraktif seiring dengan perkembangan teknologi yang menyertainya, bahkan karya seni jenis ini mendapat posisi utama oleh media sebagai unsur yang dapat mempengaruhi para pemirsa atau penikmat hingga pada akhirnya karya ini dapat memprovokasi massa untuk mau mengikuti pesan apa dibalik dari deretan gambar berkesinambungan itu yang telah dipublikasikan melalui media audio visual ke dalam lingkungan masyarakat. Ketika memasuki abad millenium ketiga, dimana dunia informasi dengan didukung kecanggihan dari perangkat teknologi telah masuk ke dalam relung-relung kehidupan manusia, hingga keberadaan suatu ”informasi” hasil kolaborasi seni dan teknologi diperlakukan sebagai suatu produk industri media dalam lingkunganmasyarakat modern, dimana keberadaannya dapat mempengaruhi dan merubah pradigma masyarakat tentang melihat suatu kehidupan di berbagai belahan dunia dalam satu ruangan tertutup sekalipun, apa yang telah kita utarakan itu tidak pernah terbayangkan pada proses kehidupan sebelumnya.

Kencangnya arus ”globalisasi” yang melanda ke seluruh dunia dan diiringi dengan tingginya peran teknologi informasi dalam kehidupan manusia, hingga peradaban manusia berada pada titik kulminasi yang membanggakan. ”Dunia modern” dengan segala macam atributnya, yang kala itu hanya sebagai suatu wacana saja dalam setiap kesempatan, kini telah menjadi suatu kenyataan. Kehadiran peralatan berteknologi serba canggih telah menyusup dan menjadi bagian dari aktifitas kehidupan melalui terbentuknya jaringan media yang terintegrasi itu, secara tidak langsung akan berdampak pada terciptanya peradaban dunia dan isinya ke arah lebih baik. ”Awalnya bahwa dunia sangat luas dan untuk berkomunikasi tentunya diperlukan waktu yang panjang dan berliku-liku dalam proses operasionalnya. Namu hal itu semua bisa terjadi dalam waktu yang relatif singkat dan mengisyaratkan seolah-olah dunia ini telah menjadi dalam satu genggaman tangan” (Sachari, 2007). Pandangan ini didasarkan pada suatu kenyataan bahwa, teknologi dengan berbagai  macam kecanggihannya yang terlahir, akan membawa arus informasi dunia dan komunikasi antar negara lewat satelit komunikasi telah menyebarkan berbagai macam peristiwa melalui jaringan cyber virtual digital yang terhubung dengan negara satu dan negara lainnya secara on line, hingga arus informasi yang terhubung melalui jaringan media itu sulit dibendung lagi penyebarannya. Berangkat dari sinilah suatu informasi yang membawa suatu peristiwa dari berbagai macam wilayah itu, dalam waktu bersamaan dapat diakses dan dilihat secara virtual menyeruapai bentuk  alsinya pada  setiap negara dengan memakai peralatan teknologi multimedia.

Peranan seni semakin diakui eksistensinya ketika industri media menjadi bagian penting dalam proses kehidupan manusia pada era modern. Eksistensi industri media semakin dipercaya fungsinya ketika teknologi informasi yang mengusung dengan kecanggihan teknologi berada di belakangnya. Industri media makin berkibar peranannya ketika melahirkan gambar-gambar yang spektakuler hasil perekayasaan yang mengusung imajinasi tinggi para perancangnya baik secara Visual (statis/diam) dalam bentuk majalah, tabloid, koran, billboard dan display maupun secara Audio Visual (dinamis/bergerak) dalam bentuk video, televisi dan film. Dari kedua media tersebut, media Audio Visuallah yang paling digemari oleh masyarakat hingga peran televisi tak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat, meskipun bentuk lain semacam karya film dan karya video tidak lepas dari penglihatannya. Mengapa keberadaan televisi telah mendapatkan tempat di hati masyarakat, hal ini dikarenakan televisi dianggap sebagai salah satu media yang memberikan informasi secara aktual dan faktual tercepat dalam penyebarannya dan sekaligus sebagai sarana hiburan termurah dan menarik yang mampu menyedot jutaan permirsa daripada media sebelumnya. Tidak heran jika televisi dijadikan media pilihan utama oleh kelompok-kelompok tertentu dalam mempengaruhi massa untuk percaya dan mendukung kepentingan kelompoknya, bahkan para elite politik dan pemerintahpun tak lepas dari peran media dari kotak kecil yang berintelijen tinggi itu. Karena dalam orientasi dan operasionalnya televisi dianggap sebagai alat yang ampuh untuk memprovokasi massa, agar mengikuti apa yang akan direncanakan dibalik dari tayangannya. Lihatlah pemberitaan melalui televisi tentang kotornya pelaksanaan Pilkada, maraknya korupsi tanpa tidakan hukum yang tegas, tawuran antar warga, iklan televisi yang terkadang over acting, iklan pemilu yang bikin kita bingung memilihnya akibat kegombalan dari jurkamnya serta sederetan acara yang lain berseliweran dari menit ke menit tak luput dari penglihatan pemirsa tiap hari. Dari beberapa fakta tersebut, sangat wajarlah bila banyak pihak yang mengkhawatirkan akan perkembangan mutu rancangan program acara televisi yang tidak memperhatikan rambu-rambu “kode etik penyiaran” sehingga hasil tayangannya akan berdampak negatif bagi kalangan pemirsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Seni dengan segala bentuk keragaman didalamnya mempunyai peran besar dalam mewujudkan suatu bentuk nyata dari lahirnya ide atau pemikiran hingga menciptakan suatu peradaban baru bagi umat manusia ke arah kemajuan dengan kualitas lebih baik dari sebelumnya. Sudah terbukti berapa banyak karya seni hadir di tengah masyarakat dan telah menjadi suatu kebutuhan hidup dari masyarakat itu sendiri *

 

1. Televisi sebagai Cerminan Gaya Hidup Modern

Suguhan yang diberikan oleh industri televisi dengan berbagai macam rancangan seni yang mengusung proses imajinasi tinggi dalam setiap  program acaranya telah membuat banyak orang merasa terhibur dan mau meluangkan waktunya untuk duduk bersama keluarga atau sendirian di balik pintu sebuah kamar didepan layar televisi untuk menikmati beragam tayangan sambil minum kopi jahe disertai dengan hisapan cigaret kretek reco buntung, setelah seharian penuh bergelut dengan rutinitas pekerjaan. Berbagai macam program acara terlahir dari beberapa stasiun televisi yang saling bersaing dalam merebut hati pemirsanya, guna mendapatkan rating tinggi dimana nantinya akan menjadi acuan dalam mencari para pemasang iklan yang menjadi alat utama dalam pengendalian siaran. Wajarlah ketika kita hampir kesal dibuatnya tatkala menyaksikan sinetron “Si Romlah Janda Muda” keluaran dari BONEX TV dan dalam keseriusan menyaksikan acara tersebut, tiba-tiba dipotong sebuah iklan kecap Cap Sandal Jepit hingga kita muak dan memindah saluran yang lain. Iklan televisi selalu ada dalam selipan program acara televisi, karena dengan iklan ini televisi bisa melangsungkan hidup dalam penyiarannya. Perusahaan pemasang iklan televisi dan perusahaan penyiaran televisi merupakan hungan kerja simbiosis mutualisme, dimana dalam implementasinya saling menguntungkan secara timbal balik. Dari hubungan itulah akhirnya perusahaan media televisi merancang program sekreatif mungkin demi memuaskan para pemirsa hingga nantinya akan menaikkan rating televisi, sebagai pemuas pada perusahaan yang menyewa medianya guna memprovokasi massa, agar mau membeli produknya itu lewat iklan televisi yang ditayangan bersamaan program dari siaran televisi tersebut, terlepas dari dampak baik dan buruknya pada pemirsa.

Tidaklah merasa heran jika antar stasiun televisi menayangkan program-programnya sebaik mungkin berdasarkan taget market dari masing-masing stasiun televisi itu sendiri hingga terjadilah pertempuran media dalam rangka menaklukkan pemirsa agar senang dan cinta terhadap program tayangan televisi yang menjadi idolanya itu. Lihatlah tayangan dari Trans TV dengan program unggulan pemutaran film-film produksi holywood yang memancing penonton agar bertenger di depan televisinya setiap hari, Stasiun televisi Tran-7 yang menjadi groupnya itu juga menyodorkan program acara bukan empat mata dengan dibawakan secara kocak oleh presenter Tukul Arwana, sorang mantan group lawak Srimulat yang terkenal dengan ucapan ndeso itu. SCTVpun tak mau kala dalam menyedot para remaja,  melalui sinetron-sinetronnya dan masternya adalah program FTV yang disetarakan dengan film-film layar lebar dengan cara mengillustrasikan gelora asmara anak muda dalam biasan cerita film televisi itu. RCTI tak mau menyerah begitu saja, walaupun program beritanya sudah dikenal oleh masyarakat sejak kemunculannya, maka program sinetronpun digarapnya untuk menandingi dari sinetron SCTV , dengan memperdalam karakter gaya hidup masa kini dalam setiap seri  pengumbaran cucuran air mata wanita akibat pertengkaran keluarga atau pacarnya, perburuan harta warisan dari orang tua, perselingkuhan hidup, serta pernik-pernik kehidupan dalam keglamouran remajapun didaratkan dalam layar kaca di hadapan para pemirsa. Sementara Indosiar menandinginya dengan sinetron gaya lama dengan memodifikasi dalam alur suatu cerita legenda dengan kehidupan kini, dimana  cara pengeksekusian cerita dikonstruksikan seenaknya dalam kehidupan era modern hingga suatu cerita tentang petualangan Ken Arok dalam merebut cintahnya kepada Kendedes divisualisasikan memakai hand phone Samsung dan bermobil Mercydes itu. TPI yang keberadaanya di bawah bendera MNC group terus berkonsentrasi dengan kedangdutannya serta sinetron religi, sedangkan ANTV terus memacu dengan acara-acara anak muda serta keluarga muda dimana keberadaannya masih dalam taraf pencarian identitas. Karena pada awalnya keberadaan televisi ini sudah eksis di olah raga namun ditengah jalan mencari identitas baru. Sementara televisi yang memang sengaja memilih jalan pemberitaan adalah Metro TV dan TV ONE dengan program berbasis pada masalah pemberitaan namun cara pengemasannya saja yang membedakannya.

Media massa khususnya televisi kini telah menjadi alat yang ampuh bagai mantra-mantra penarik massa hingga keberadaannya itu dapat mempengaruhi alam pikiran serta pandangan masyarakat melalui keragaman program acaranya. Lewat media televisi pula dengan segala macam atribut pernik-pernik kehidupan masyarakat modern dalam frame kacamata media telah tervisualisasi dengan jelas dan gamblang melalui isi program acaranya, sehingga “gaya hidup” masyarakatpun dapat tercipta dengan sendirinya dan menerjang siapa saja yang ada didepan sebgai korbannya, entah anak-anak, remaja atupun orang tua. Kalau kita kaji dari program-program penayangannya, hati kita akan bertanya terus berkata manfaat apa yang di dapat dari siaran tersebut, katakanlah semacam program acara KKN dimana maknanya sudah diplesetkan dengan istilah yang lagi ngetren yaitu Narsis…  suatu bentuk pemikiran ke arah negatif dari simbul pergaulan bebas remaja dewasa ini. Dari judulnya saja, sudah mengisyaratkan daya nalar rendah yang hanya mengumbar pembicaraan tentang keglamoran hidup semata dengan narasumber asal comot tanpa standard kualifikasi bidang keilmuan tertentu yang penting populer… dan sensasional…dalam penampilan, dimana sosok kepopulerannya tersebut sebagai korban dari hasil lansiran budaya barat lewat jaringan cyber vitual digital itu, ditiru dan sangat  lengket menjadi identitas baru bagi generasi muda masa kini dan digembar-gemborkan lewat jaringan media televisi, dimana sasarannya tak tepikirkan oleh mereka para pengelolah program tersebut terhadap efek yang ditimbulkan kepada para insan negeri ini, baik anak-anak, remeja maupun orang tua sekaligus. Siaran Infotainment sebagai senjata untuk mempopulerkan seorang artis telah menguasai jam-jam penayangan. Mulai dari pagi, siang, sore, malam telah mencuci otak para ibu-ibu, remaja hingga lupa dari kewajiban apa yang seharusnya dikerjakan gara-gara ngefan dengannya. Materi siaran dari penayangan itu pada dasarnya tidak ada manfaat dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat itu serta tidak didasari dengan sumber-sumber berita yang falid, hanyalah mengumbar pola hidup artis dengan didominasi tingkah laku keglamoran hidup semata dan sebagai replika layaknya kehidupan modern di dunia barat tetapi dunia barat itu sendiri mengimbanginya dengan eksperimentasi teknologi hingga menghasilkan kecanggihan teknologi dimana keberadaanya bermanfaat bagi kehidupan orang banyak. Harusnya eksperimentasi teknologi inilah yang patut kita teladani dan kita pelajari demi kemajuan bangsa Indonesia itu sendiri…eeee…malah sebaliknya pola hidup yang ditelan abis-abis…habis gampang sih…penerapannya tidak memerlukan daya nalar tinggi…dalam pengaplikasiannya. Segala macam apa yang disodorkan pada khalayak hanyalah mengungkap kebohongan publik, pola perselingkuhan, penghasutan antar artis dengan di dukung sumber data ala kadarnya sehingga menghasilkan dialog murahan sebagai cerminan atas minimnya daya nalar pada topik pembicaraan yang diulasnya.

Bagaimana cara media memperlakukan seorang artis dengan berbagai macam pengemasannya hingga keberadaannya seperti dewa disanjung kesana kemari oleh ribuan penggemarnya, agar artis bisa diajak kerjasama sesuai dengan kemauan media. Apa yanag telah dilakukan media terhadap seorang artis hanyalah sekedar pencarian sensasi demi tenarnya jatidiri seseorang atau kelompok di hadapan masyarakat, dengan demikian secara otomatis keberadaan media akan naik juga pamornya di mata masyarakat sebagai target marketnya, walaupun hal itu tak ubahnya dilakukan dengan cara pendomplengan kepentingan terhadap seseorang. “Lewat media massa televisi pula menyangjung seseorang menjadi populer dan melambung namanya sebagai public figure di kalangan masyarakat bahkan bisa menjadi idola dan dipuja esistensinya oleh seseorang, namun media pula yang sanggup menumbangkan nama seseorang hingga hancur berantakan kehidupannya” (AB. Susanto,2001). Tidak sedikit gaya artis yang menjadi pemicu terhadap gaya hidup anak muda sekarang, lihatlah potongan rambut jambul bagai burung nuri kelimis mengarah ke atas pada seseorang Sutikno Bin Kadhal itu dan garis-garis searah mirip jalur semut berjalan dengan pola tertentu telah lengket dikepala cepak pada seorang pemuda bernama Wakidun Bin Khalong serta pakaian ala artis dengan keminiman penutup aura sebagai pertanda gak mampu beli bahannya itu, padahal ekonominya menengah ke atas… telah berseliweran di jalan raya. Pernik-pernik peradaban modern yang hadir di tengah-tengah kita, telah menghasilkan  kegilaan moral dan etika hingga terbentuknya peradaban setan… bahkan telah membudaya pada generasi muda negeri ini hasil dari hegemoni kehidupan yang katanya bagian dari masyarakat modern dan digembar-gemborkan oleh jaringan cyber virtual digital diperkuat penyebarannya lewat media televisi melahirkan bentuk gelombang elektromanetik malayang kesana kemari jagat raya sampai menembus dinding tembok dan kaca lalu bertengger di setiap rumah dalam bentuk visual di layar televisi. Penyebaran ini telah menguasai lingkungan masyarakat perkotaan bahkan sudah mengepedemi sampai ke wilayah pedesaan.

Dalam perspektif industri, perancangan program acara televisi hanyalah merupakan suatu produk komoditas yang sudah menjadi bagian pokok dari ideologi media hingga perancangan program acaranya berorientasi pada sebatas hiburan belaka, tanpa didasari dengan tujuan sosial dan etika moral dimana hal itu sudah tercantum dalam undang-undang penyiaran publik di Indonesia. Mayoritas kualitas tayangan televisi Indonesia…hanyalah dirancang dengan berorientasi pada berkembangnya wacana budaya populer dalam aktifitas remaja kota yang bercermin hanya pada masalah keglamouran hidup dan sensasi belaka serta miskin penerapan yang memberikan daya dorong untuk berpikir keilmiahan, sehingga nantinya akan melahirkan kualitas tayangan sebagai pemicu pembelajaran dan mengasah kecerdsan daya nalar tinggi dikesampingkan. Yang terpenting dipikran media adalah bagaimana caranya produk itu bisa laku keras di masyarakat dengan cepat…!!!. Hal inilah yang dikemukakan oleh KaumMarxis “… nilai-nilai yang menguntungkan orang-orang yang menjalankan masyarakat, tentang ide-ide yang berkuasa sepanjang masa merupakan hasil dari ide orang yang berkuasa…” (John Storey, 2003). Tayangan televisi telah banyak mempengaruhi gaya hidup manusia metropolis khususnya kota Jakarta yang serba waah…, hasil dari rekonstruksi media telah sedikit banyak merubah peradaban masyarakat perkotaaan menjadi gemerlap. Para remaja dengan dandanannya yang serba glamor dan terkadang menor serta seronok bercengkrama di tempat tongkrongan yang serba trend, seperti mall, cafe, diskotik, restorant, hotel  serta aktifitas “Dugem” bagian dari refreshing diri…eee…padahal Dugem itu sendiri adalah “Dunia… Gemblung… blung…blung…!!!”, telah merubah image mereka menjadi pencitraan kelas tersendiri dalam status sosial masyarakat sebagai sesosok mahkluk manusia modern yang mempunyai derajat tersendiri di lingkungan masyarakat bangsa ini. wwweeee… kata siapa…? itu hanya kata orang yang menjunjung tinggi maraknya dan eksisnya peradaban setan…alas… di Indonesia…tauk…!!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Keragaman program acara televisi dari berbagai macam stasiun televisi yang bersaing dalam menjaring sebanyak-banyaknya pemirsa demi kenaikan rating untuk mencari mitra kerja sebagai pemasok iklan ke dalam televisinya. Dari situlah bahwa keberadaan seni yang diwakili oleh televisi telah menyatu dan menjadi bagian dari kehidupan manusia bahkan masyarakat telah terbangun jati dirinya berkat pengaruh dari tayangan televisi yang mereka tonton *

 

2. Eksisnya Industri Media Dalam Era Reformasi Kebablasan

            Tayangan televisi dengan segala macam bentuknya hasil rekayasa dari kelompok dominan selaku pemegng kekuasaan pasar, dimana hasil rancangan program acaranya tersebut telah melebihi batas-batas kewajaran dan kepatutan dalam etika penyiaran, sehingga telah mempengaruhi dan merubah pola hidup masyarakat serta menghegemoni dalam lingkungan kehidupan suatu masyarakat yang notabene sebagai cerminan dari terbentuknya masyarakat modern. Hegemoni juga bisa diterjemahkan sebagai suatu proses-proses segala macam ide yang telah terkonstruksi dengan keragaman makna di dalamnya, milik satu kelompok kelas dominan atau kelas berkuasa yang ada dan telah eksis keberadaannya hingga dapat mempengaruhi suatu keadaan dalam lingkungan masyarakat. Media televisi dengan kekuasaan ideologi di dalamnya yang notabene merupakan representatif dari saluran informasi dan hiburan demi terciptanya masyarakat modern, telah muncul sebagai pelopor dalam suatu fenomena perubahan realitas sosial masyarakat yang banyak direkonstruksi dan didominasi oleh ide-ide materi dari Karl Mark itu. Sepertinya “ide-ide itu dituangkan dalam instrumen-instrumen kapitalis sehingga akhirnya perilaku masyarakat menjadi bagian dari masyarakat kapitalis yang konsumtif serta dari sistem produksi itu sendiri” (Burhan Bungin, 2001 : 25). Kenyataan ini menegaskan selama produk media dengan segala bentuk itu diterima oleh masyarakat terlepas baik dan buruknya, akan terus diproduksi oleh media dan disebarluaskan melalui jaringanya hingga menjadi suatu trens center tersendiri bagi masyarakat yang menerapkannya.

Dampak siaran dari televisi sedikit banyak telah ditiru oleh generasi bangsa ini hingga Gaya hidup yang di terapkan oleh para profesional muda itu bertujuan untuk  menyesuaikan tuntutan Life Style dalam masyarakat modern dikarenakan adanya suatu konsekuensi yang diambil berkat pengaruh lingkungan kerja serta tempat tinggalnya yang telah tercipta dengan sistem pengkelasan status sosial. Selain itu juga sebagai antisipasi jika nantinya media mengekspose mereka karena tuntutan lingkungan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya mengharuskan demikian. Berbeda lagi dengan nasib pekerja pinggiran seprti yang disuarakan oleh musikus kondang Iwan Fals dengan kelompoknya…Orang… Pinggiran ooeeaaaeeeeooo… orang… pinggiran ooo… totoknooo… dewe… akan selalu terus tertekan oleh segala macam aturan yang dikelolah oleh mereka sendiri…untuk memeras keringat dari para pekerjanya tanpa ada kelayakan dari kompensasi yang diterimanya, dan ini akan terus menghantui kehidupan mereka, selama badan hukum resmi tidak berpihak kepadanya. Apa yang mereka terima terkadang tidak sebanding dengan apa yang mereka berikan, hingga akhirnya kerja mereka hanya untuk menumpang hidup di emperan dengan makan nasi goreng dan idomie doang, dalam era perubahan yang katanya menjanjikan suatu peningkatan kesejahteraan bagi rakyatnya…, mana itu…heeeiii… janji waktu kau kampanye dulu… dasar kadal buntung…  lho… para politikus… !!!, ngomong waton njeplak…ae…, jebule… koen dewe…sing wareg…dul…!!!. “Suatu kelas sosial yang unggul melalui kepemimpinan intelektual serta moral sebagai pemegang kuasa akan terus menerus menekan kelas pekerja yang ada dibawahnya” (Graeme Burton, 2008), inilah yang dikatakan oleh Antonio Gramsci tentang hegemoni dalam masyarakat kapitalis. Pandangan ini didasari bahwa segala apa yang tercipta dalam realitas sosial tercermin dalam kekuasaan yang bersumber pada ideologi sebagai pemegang lokasi kekuasaan, merupakan representasi dari institusi media sebagai suatu industri budaya. Hegemoni sebagai tempat kekuasaan tersembunyi hanyalah sebuah tempat berisikan tentang sejuta ungkapan kekuasaan yang dibentuk melalui rekonstruksi teks-teks media dan penjungkirbalikan makna-makna di dalamnya.

Fenomena kehidupan masyarakat yang ada didepan kita hanyalah suatu realitas palsu dan tertanamnya replika dari eksisnya kehidupan asing di atas tanah terjangkit wabah virus penyebaran imperialisme budaya dari suatu sistem koneksi jaringan cyber digital dimana keberadaanya sulit dideteksi hingga menumpuk menjadi kanker budaya telah menyusup pada sosok-sosok yang mengatasnamakan orang yang paling modern di negeri ini…lhooo…!!!. Keragaman pernik-pernik peradaban yang ada di tengah-tengah kita telah terekam dalam kaca mata ideologi bangsa Pancasila telah melenceng dari seharusnya. Bahwa kini potret kehidupan kita merupakan replika dari eksisnya budaya barat menguasai dan menghegemoni dalam kehidupan masyarakat yang cederung konsumeristik dan hedonis dalam lingkungan armosfir masyarakat bermentalkan kapitalis dan dibesarkan dalam infrastruktur reformasi yang serba kebablasan itu. Dalam pemahaman kita tidak pernah terpikirkan dan memang tidak pernah memikirkan, bahwa  sadar atau tidak, nilai-nilai kebudayaan kita telah  luntur dalam praktik-praktik kehidupan dan terlindas dengan praktik-praktik replika budaya barat yang notabene mengatas namakan masyarakat lebih modern. Apa yang namanya, Pancasila bersama lima silanya yang telah menjadi dasar dari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia dari para pemikir pendiri bangsa ini, dan seharusnya,… bukan seharusnya… tetapi… satu kata harus melekat dalam jiwa dan menjadi perisai diri dalam menghadapi serangan bertubi-tubi faham kaum imperialisme budaya…!!!, lewat kecanggihan teknologinya… telah mengacak-acak budaya lokal hingga keberadaannya terlempar dan terkapar di tanah berlumpur… becek…cek… sambil megap-megap… tak berdaya…!!!. Mental bangsa ini, kini rapuh digerogoti oleh rayap-rayap kapitalis dalam keragaman model telah menyusup dalam sendi-sendi kehidupan dan memporakporandakan tatakrama pergaulan hingga jati diri bangsa menjadi kabur kemudian menghilang… digantikan jati diri konsumtif, instanis serta hedonis dalam praktik-praktik sosial budaya. Kini bangsa ini mulai kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi Pancasila. Matinya Pancasila dalam jiwa generasi muda bangsa ini disebabkab kegoblokan dari generasi sebelumnya yang kurang mampu mensosialisasikan dengan benar tentang makna-makna dan nilai-nilai dari Pancasila itu sendiri kedalam relung-relung kehidupan pada setiap warganya, hal ini bisa terjadi disebabkan pemaknaan pancasila hanya sebatas pembungkus belaka tanpa didasari dengan penjiwaan yang kuat dari masyarakatnya. Ketika globalisasi menerjang negeri ini dengan segala macam akibatnya, maka kita tak mampu menahannya, karena anti body dari Pancasila yang tertanam di diri kita suntikannya setengah-setengah saja, akhirnya kita roboh dan tersungkur kena paku berkarat dari produk kapitalisme. Gaung Reformasi yang katanya menjajikan suatu perubahan besar untuk kesejahteraan rakyatnya itu… ujung-ujungnya…ya…sami mawon…alias sama saja hasilnya…rusak…!!!, malah lebih parah daripada orde baru…!!!. Aturan hukum dipermainkan…, keputusan penguasa tidak berpihak pada rakyat kecil…, Korupsi makin menggila, pola hidup sakenak udele…dewe…dan parahnya Pancasila ditelantarkan sebagai hiasan di dinding dan tidak diamalkan nilai dan maknanya hingga melahirkan generasi yang tidak Pancasilais tetapi melahirkan generasi yang Populeris…!!!. Kalau sudah begini jadinya… lantas kita mau apa…? dan siapa yang bertanggung jawab tentang keadaan yang sudah amat memprihatinkan ini …heeeiii…?.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Dampak sosial yang ditimbulkan dari pemgaruh seni lewat siaran televisi dan disebar luaskan ke pada masyarakat dari manipulasi terhadap peran seni hingga menguntungkan golongan sepihak,  akibatnya timbul suatu permasalahan sosial yaitu jurang pemisah yang membedakan nasib dan kedudukan dalam status sosial di masyarakat, Ini terjadi karena seni dimanfaatkan oleh suatu kelompok dan dimanipulasi fungsinya hingga menguntungkan kelompok itu sendiri maupun koleganya *

 

3. Kehadiran Film  Sebagai Pencerahan ataukah Kemaksiatan ?

Film selain sebagai alat untuk mencurahkan ekspresi bagi penciptanya, juga sebagai alat komunikator yang efektif bagi masyarakat banyak, karena pada dasarnya sebuah film diciptakan dapat menghibur, mendidik, melibatkan perasaan, merangsang pemkiran dan memberikan dorongan, serta pengalaman pengalaman baru yang tersirat dalam makna lewat visualisasi gambar-gambar menarik hingga penonton terbuai melihatnya. Sebuah film diciptakan dengan harapan dapat dipahami pesannya lewat dinamisasi gambar hingga menimbulkan suatu gerak ilusi dan masyarakat dapat merasakan, mencernah serta mengambil pemanfaatan pesan moral dari film tersebut. Sebuah film diproduksi oleh suatu lembaga, tentunya disebarluaskan kepada masyarakat untuk ditonton sebagai sarana hiburan dan juga sekaligus sebagai pencerahan hidup masyarakat, karena keberadaan sebuah film merupakan rangkaian beragam peristiwa kejadian di masyarakat membentuk sebuah alur cerita baik secara nyata maupun secara imajinatif. Runutan cerita sebuah film mengadung arti, makna ataupun misi tertentu sehingga nantinya dapat mempengaruhi dan membawa penonton ke arah penghayatan diri, dari runutan cerita yang telah terobsesi dalam pikirannya itu dapat menghibur, mendidik, merangsan pemikiran orang, memberikan pengalaman serta nilai-nilai kehidupan berharga pada masyarakat selaku targetnya.

Nilai hiburan dalam sebuah film merupakan unsur penting dalam menarik penonton terhadap film tersebut. Nilai hiburan jangan menjadikan sebuah alasan untuk menciptakan sebuah film ala kadarnya tanpa ada pengkajian dari aspek cinematografinya, hingga terlahir film mutu rendahan, dimana dalam perancangannya hanya menimbulkan unsur hiburan semata yang penting bisa membuat orang tertawa lebar…hahaha…, tegang,,, ohohoh,,,, mencekam… hihihi, bergairah… wuswuswus… dengan menghadirkan sensasi gambar yang fulgaaarrr… melaui pakian minim, seronok dan mengumbar aura selebar mungkin hingga penontonnya sampai melotot… menahan nafas… dan berteriak diamput…edan tenan actingnya…!!!. “Kalau seandainya nilai hiburan ditonjolkan dalam sebuah film, maka terkesan film rendahan. Film yang hanya lari dari kenyataan hidup dan terkesan konyol tak berarti” (Marselli, 1996). Kalau penyajian film Indonesia seperti ini,  lalu pesan apa yang akan diserap oleh masyarakat dengan cara begini… hei…?. Nilai pendidikan dalam film bermakna sebagai penyampaian pesan moral dari isi cerita film tersebut. Kalau seandainya nilai pendidikannya ini dikerjakan secara halus menurut etika-etika yang ada, maka pesan yang tersampaikan ke dalam pikiran masyarakat akan mudah dicerna. Bagaimana caranya nilai pendidikan yang memacu orang untuk berbuat lebih baik dapat tercermin dalam proses pembuatan film, sehingga film tersebut tidak hanya enak ditinton melainkan juga berfungsi sebagai alat “pencerahan” hidup masyarakat. Bagaimanapun juga penyajian sebuah film harus menyeimbangkan antara unsur hiburan dan pendidikan di dalamnya. Jika konsep rancangan tersebut tidak tepat dan terkesan asal-asalan serta tidak argumentatif dalam penyajiannya, maka kehadiran film hanyalah menjadi produk sampah sebagai tontonan hiburan masyarakat hingga pada akhirnya nanti dapat menjerumuskan masyarakat luas, bahkan menjadi alat penyesatan hidup masyarakat.

Pada kenyataannya karya-karya film anak bangsa ini, hanya berorientasi pada gaya hidup trend center dan kemistikan dengan dibumbui adegan mesum, sekali lagi adegan mesum…!!!. Karya-karya yang menunjukkan kematangan konsep penyajian baik cerita maupun pengeksekusiannya melibatkan teknologi cangih dan argumentatif dalam ceritanya,  masih jauh dari pikiran dan sentuhan para insan perfilman negeri ini. Kecanggihan teknologi yang hadir di Indonesia dengan segala macam bentuknya, tidak mampu merangsang para kreator film untuk menciptakan sebuah film spektakuler dengan mengacu pada kecanggihan teknologi dalam pengeksekusiannya seperti layaknya film-film produksi Amerika yang laku keras dipasaran dunia. Para sineas negeri ini dengan latar belakang pendidikan serba gado-gado itu, telah terjebak dalam kepentingan bisnis dengan pengekangan produser bermentalkan cupet, kelokalan orientasi, alergi dengan teknologi, tidak mau berspekulasi hingga film yang dihadirkan hanyalah sekedar meramikan dan menyemarakan dunia hiburan dalam negeri sendiri. Kehadiran para sarjana bidang perfilman dari lembaga-lembaga pendidikan resmi di Indonesia, ternyata tidak mampu membangkitkan semangat untuk membangun perfilman Indonesia ke tingkat lebih tinggi seberti yang telah dilakukan oleh Negara-negara dunia ke tiga di wilayah Asia yang menjadi tetangga kita. Dunia perfilman Indonesia telah mengulang kembali eksisnya film Indonesia kala itu dengan menyuguhkan film-film panas yang menonjolkan kemesuman dir era tahun 80-an, dan dikemas kembali dengan faham kemistikan dan keklenikan dalam atmosfir kehidupan bernuasa kesetanan pada setiap karyanya. Lihatlah karya-karya film anak bangsa ini hei…!!! seperti Tali Pocong Perawan, Pocong Kamar Sebelah, Kuntil Anak Beranak, Beranak Dalam Kubur, Suster Keramas, Pocong Minta Kawin, Kepergok Pocong, Pocong Mandi Goyang Pinggul, Dedemit Gunung Kidul, serta sederetan judul film lainnya. Dalam trend kehidupan film pergaulan anak mudapun lahir, seperti Virgin, Maaf Saya Menghamili Istri Anda, Air terjun Pengantin, serta sederetan judul lainnya, meskipun tidak menutup mata terhadap karya-karya sineas yang memang Idealis mengeluarkan karya terbaiknya, namun prosentasenya hanya segelintir saja. Bahkan gilanya lagi para Producer dan crew perusahaannya mendatangkan bintang film porno dunia untuk main di Indonesia, itu otaknya sudah bener-bener keblinger tujuh turunan dan sudah keterlaluan ide penciptaannya dengan cara menghalalkan segala cara dengan menghadirkan adegan mesum di tempat umum. Tetapi anehnya Pemerintah melalui lembaga yang berwenang membiarkan saja ide yang super edan, gendeng, kenthir dan goblok itu diproduksi. Inilah sebagian hasil dari reformasi yang diperjuangkan oleh para mahasiswa Indonesia dan dimanfaatkan oleh sebagian orang atau kelompok dengan gaya dan polanya sendiri dengan alasan mendompleng berkiprah demi Indonesia maju dalam bidang yang mereka kuasai…aaahhh… gombal… lho… ngomong waton njeplak… ae… itu namanya bukan berkiprah demi Indonesia maju…!!!, tetepi menghadirkan karya dengan kemauannya sendiri tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan terhadap karya ciptaannya hingga mewacanakan kemesuman dalam  atmosfir kemaksiatan dan mengantarkan Indonesia memasuki era zaman edan…terbungkus dengan pernik-pernik peradaban setannnn…alassss… !!!.

Lembaga Sensor Film Indonesia atas nama pemerintahan seharusnya pekah terhadap fenomena ini, dan tidak membiarkan para pengusaha lewat produksi film dengan cara seenaknya sendiri hingga menimbulkan polemik berkepanjangan tanpa ada hasil. Pada kenyataannya lembaga ini tidak mempunyai nyali besar untuk bertindak  tegas, atas permainan para industri film melalui beragam karyanya  yang semakin lama tindakannya mengarah pada penyesatan kehidupan masyarakat. Lembaga Sensor Film Indonesia yang kita miliki diambang sangat dilematis, peran lembaga ini di tengah tarik menarik antara pembuat film dan kepentingan perkembagan hidup masyarakat.  Disatu pihak melindungi masyarakat terhadap ekses-ekses negatif dari pengaruh film dan dipihak lain menjadi penghambat kreatifitas perkembangan produksi film. Dalam kondisi sekarang ini, dimana masyarakat Indonesia dalam taraf kondisi sakit, sehingga perlu adanya obat yang ampuh untuk merangsang kesembuhan itu, salah satunya adalah suguhan tayangan hingga nantinya menimbulkan reaksi positif, oleh karena itu pemerintah harus bertindak tegas boleh dan tidaknya tayangan itu dihadirkan di tempat umum…!!!. Kepentingan masyarakat jauh lebih utama daripada melindungi segelintir pemilik modal yang otaknya keblinger dalam memproduksi sebuah film, toh hasilnya…Apa…?, malah meracuni dan menyesatkan kehidupan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Film-film hasil karya anak bangsa yang menyuguhkan unsur klenik, mistik, kesetanan dengan disertai adegan mesum di dalamnya telah beredar luas di lingkungan masyarakat hingga berdampak buruk bagi masyarakat Indonesia, karena dengan beredarnya film tersebut berarti membuka lebar ke jalan penyesatan masyarakat. Anehnya lembaga yang berwenang LSFI meloloskan peredaran film tersebut *

 

Penutup

Dibalik tayangan televisi melalui berbagai macam program acaranya itu, terselip pesan moral yang akan di sampaikan kepada masyarakat, jika program acara tersebut tidak menyeimbangkan anatara kepentinagn bisnis dan kepentingan sosialnya maka tayangan tersewbut akan berdampak buruk bagi perkembangan psikolgi masyarakat. Oleh karena itu banyak kalangan mengkhawatirkan dampak yang ditimbulkan dari tayangan tersebut, hal itu bisa terjadi, dikarenakan kurang dimaknainya konsep dalam perancangan secara mendalam oleh pengelolah industri media dan banyaknya pelanggaran terhadap rambau-rambu aturan yang dituangkan dalam undang-undang penyiaran maupun undang-undang perfilaman tentang perancangan program acara televisi dan produksi film di Indonesia, dimana aturan tersebut telah disepakti bersama antara industri televisi dengan Komisi Penyiaran Indonesia dan industri film dengan lembaga Sensor Film Indonesia.       

Para penghuni bangsa ini telah banyak diracuni oleh faham kapitalisme, liberalisme, pragmatisisme yang secara samar terselubung dalam tayangan televisi maupu film-film yang beredar di tengah masyarakat luas , hingga masyarakatnya menjadi masyarakat materialis, hidonis dalam lingkungan masyarakat kapitalis. Apapun bentuk tayangan media selalu menjadi pegangan masyarakat untuk menciptakan gaya hidup itu seperti yang mereka tonton. Bila hal ini terjadi terus menerus dibiarkan, dan tidak ada pengontrolan dan tindak lanjut dari lembaga berwenang, maka akan dikhawatirkan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi keluhuran budi pekerti, sifat sabar dan norma kesantunan bisa tergilas oleh budaya baru yang menawarkan serta merta keglamoran hidup dan mengkapitaliskan praktik-praktik dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Sudah menjadi kewajiban kita bersama, khususnya kalangan yang berpendidikan tinggi agar saling mengingatkan, bahwa tak semua tayangan dari cerminan televisi dan film mempunyai nilai kebaikan dan makna kebenaran, bahkan ada isi tayangan baik televisi maupun film tersebut dapat menyesatkan kehidupan masyarakat dan hal itu dibiarkan oleh yang berwenang hingga menimbulkan polemik berkepanjangan. Kini tergantung kita semua bagaimana menyikapinya. Diperlukan tindakan tegas oleh Komisi Penyiran Indonesia dan Lembaga Sensor Film Indonesia selaku penjaga gawang kepada para stasiun televisi dan industri film, jika terbukti melanggar aturan yang telah ditentukan dan disepakati bersama, dampak negatif dari peredaran siaran televisi dan film dapat ditekan seminimal mungkin.

 

Daftar Pustaka :

* Beberapa foto di share dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

 

Bungin, Burhan. 2001. Imaji Media Massa : Konstruksi dan Makna Realitas Sosial Iklan Televisi dalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta : Jendela.

Burton, Graeme. 2008. Media dan Budaya Populer. Penyadur: Alfathri Adlin. Yogyakarta: Jalasutra.

Susanto, AB. 2001. Potret-Potret Gaya Hidup Metropolis. Jakarta: Toko Buku Kompas Media Nusantara.

Rahardi, Kunjana. 2000. Renik-Renik Peradaban. Yogyakarta: Duta Wacana Univercity Press.

Storey, Jonh. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop: Memetakan Lanskap Konseptual Cultural Studies. Penyunting: Dede Nurdin. Yogyakarta: Qalam.

Barker, Chris. 2004. Cultural Studies: Teori dan Praktik. Penerjemah: Nurhadi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Surbakti, EB. 2002. Awas tayangan Televisi: Tayangan Misteri dan Kekerasan Mengancam Anak Anda. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Riswandi. 2009. Dasar-Dasar Penyiaran. Jakarta: Graha Ilmu.

Mulyana, Dedi, Idi Subandi Ibrahim. 1997. Bercinta dengan Televisi. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Arifin, Eva. 2010. Broadcasting: To Be Broadcaster. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sachari, Agus. 2007, Budaya Visual Indonesia. Jakarta : Erlangga.

Dale, Edgarv,. 1991, How to film appreciated Motion Pictures,New York, Arno Press Fourt edition.

Monaco, James., 1981, How to Read a Film, New York,Oxford University Press, revised edition

Sumarno, Marselli., 1996, Apresiasi Film,Jakarta, Grasindo

Effendy, Heru., 2002, Mari Membuat Film,Jakarta, Konfiden

Atmaja, Tony., Makalah Video and special effect for broadcasting in digital era, Jakarta 2002

Baksin, Askurifal., 2003, Membuat Film Idie itu gampang,Bandung, Kartasis

Wheeler, Fleming., 1980, Art Since Mid Century, TheVendeme Press,New York, Rosenberf

 

 

 

Leave a Reply

*