BANGSA BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI BUDAYANYA SENDIRI

PASUKAN ANTI TEROR INDONESIA 1 (MILIK POLRI)

PASUKAN ANTI TEROR INDONESIA 1 (MILIK POLRI)

Oleh Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Runtuhnya Gedung Worid Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat pada 11 September 2001 yang lebih dikenal dengan sebutan peristiwa “September Kelabu” itu, telah menggegerkan masyarakat dunia dimana hal ini tak terbayangkan sebelumnya termasuk warga negara dan pemerintah Amerika Serikat itu sendiri. Serangan yang dilakukan secara tiba-tiba terhadap runtuhnya gedung WTC bukan dilakukan oleh sebuah pesawat tempur dari musuh, akan tetapi dilakukan dengan menggunakan pesawat komersial  perusahaan penerbangan sipil milik Amerika Serikat sendiri yang telah dibajak oleh kelompok militan, sehingga keberadaannya tak terdeteksi dengan radar milik Amerika Serikat yang terkenal canggih itu. Tidak tanggung-tanggung dalam aksi tersebut tiga buah pesawat komersial yang telah dibajak itu dua buah dihantamkan ke Gedung World Trade Center hingga hancur lebur dan satunya lagi dihantamkan di gedung Pentagon. Kejadian yang begitu tragis itu telah mengguncangkan tidak saja oleh warga Amerika Serikat itu sendiri, tetapi juga mengejutkan masyarakat dunia. Suatu peristiwa dahsyat yang menelan korban jiwa ribuan orang telah tertimbun dalam reruntuhan gedung tersebut itu, bukanlah suatu kejadian atau peristiwa dalam khayalan film-film yang digambarkan oleh perusahaan Perfilman Amerika Serikat sendiri selama ini, akan tetapi merupakan aksi yang nyata telah dilakukan oleh kelompok teroris yang menyerang Amerika Serikat. Apa yang telah dilakukan oleh para kelompok teroris telah diindikasikan dalam jaringan Al-Qaeda itu, dengan melakukan penyerangan terhadap gedung menara kembar World Trade Center di New York, adalah elemen “Simbol dari Amerika Serikat”, sehingga mereka tak segan-segan menabrakkan dirinya sendiri bersamaan dengan pesawat yang mereka bajak ke gedung tersebut hingga hancur berantakan bersamaan dengan jatuhnya ribuan korban jiwa lainnya.  Anggapan dari kelompok teroris yang mengatakan bahwa gedung World Trade Center adalah “Simbol dari Amerika Serikat” pada kenyataannya adalah “Simbol Institusi International yang melambangkan Kemakmuran Masyarakat Dunia”, karena di gedung inilah 430 Perusahaan dari 28 negara di dunia berkantor dan ikut menjadi korbannya. Dari sinilah dapat ditarik benang merahnya bahwa aksi para teroris itu tidak saja menyerang Amerika Serikat sebagai targetnya akan tetapi juga menyerang masyarakat dunia. Dampak dari peristiwa ini telah menjadi isu global yang mempengaruhi kebijakan politik seluruh negara-negara di dunia, sehingga menjadi titik tolak persepsi bersama untuk memerangi masalah Terorisme sebagai musuh international. Dari peristiwa pembunuhan masal inilah akhirnya masyarakat dunia dapat disatukan untuk melawan bersama aksi dari Terosrisme International yang akan menghantui masyarakat di seluruh dunia menjadi korban berikutnya.

Negara Indonesia juga tak luput dari aksi-aksi para teroris yang mengatasnamakan agama islam garis keras yang dilakukan oleh kelompok militan Jema’ah Islamiyah, dimana organisasi ini merupakan jaringan dari Al Qaeda yang banyak beroperasi sembunyi-sembunyi di wilayah Indonesia. Kelompok-kelompok kecil yang dibentuk secara sembunyi-sembunyi itu, telah melakukan beberapa aksi teror di berbagai tempat di Indonesia hingga masyarakat menjadi panik dan ketakutan. Jauh sebelum peristiwa 11  September 2001 meletus yang menghancurkan menara kembar WTC itu, di Indonesia sempat terjadi beberapa kekacauan sehubungan dengan aksi terorisme tersebut. Pada tanggal 28 Maret 1981 Maskapai Penerbangan Indonesia pasawat DC 9 Garuda Indonesia berangkat dari Jakarta menuju ke medan dan setelah transit di Palembang dalam meneruskan perjalanannya itu telah dibajak oleh 5 anggota teroris bersenjatakan senapan mesin dan granat oleh kelompok yang mengaku Komando Jihat. Tanggal 21 Januari 1985 Candi Borobudur yang menjadi kebanggaan peradaban Indonesia klasik itu telah dirusak oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab hingga hancur berantakan, dan ini menandai rusaknya citra keagamaan khususnya bagi umat budha. Lima tahun kemudian secara berturut turut aksi peledakan bom meledak di beberapa tempat dalam kurun waktu tahun 2000 diantaranya 1 Agustus 2000 Bom meledak di kedutaan Filipina, 27 Agustus 2000 Bom meledak di Kedutaan Malaysia, 13 September 2000 Bom meledak di Bursa Efek Jakarta,  24 Desember 2000 Bom meledak pada malam natal di beberapa gereja di Indonesia. Kejadian itu telah memakan banyak korban jiwa dan melukai orang-orang yang tak bersalah dari aksi kelompok-kelompok militan yang berusaha membuat kekacauan dan ketakutan masyarakat hingga Negara dalam keadaan tidak aman. Berbagai macam pencegahan dilakukan oleh pihak pemerintah melalui kepolisian Negara, namun tindakan itu tidak redah juga dan terus berlanjut dari tahun ke tahun termasuk setelah peristiwa runtuhnya menara kembar WTC yang dikenal dengan “Septembar Kelabu” itu, berimbas terhadap kejadian teror bom sepanjang tahun di Indonesia. Hampir tiap tahun sepanjang tahun 2001 hingga 2005 Indonesia telah dihujani teror bom yang meledak dan menelan banyak korban jiwa di berbagai tempat. Peledakan yang tadinya di arahkan pada masalah keagamaan kini modusnya telah melebar ke kantor kedutaan Negara sahabat seperti Amerika serikat dan Australia serta perusahaaan Ameirika Serikat lewat hotel dan restorannya KFC serta Mc. Donald’s. Kajadian peledakan yang memakan korban paling banyak adalah peristiwa Bom Bali tanggal 12 Oktober 2002 dengan menelan 202 korban jiwa dan 300 luka-luka adalah bukti bahwa terorisme di Indonesia telah leluasa menjalankan aksinya. Dalam keadaan seperti ini situasi menjadi tidak kondusif, dan sebagai dampaknya menyebabkan timbulnya kepanikan warga hingga menimbulkan suatu kecemasan di tengah masyarakat, karena merasa tidak nyaman dalam melakukan aktifitas disebabkan oleh adanya isu peledakan bom yang terus membayangi dalam kehidupan masyarakat. Orang selalu diliputi rasa was-was dalam melakukan segala macam aktifitas kehidupan, bahkan umat untuk melakukan bersembayangpun merasa ketakutan hingga pihak keamanan selalu turun tangan dan menjaga ketat setiap kegiatan keagamaan di berbagai wilayah Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

* Aksi peledakan gedung WTC di New York Amerika Serikat oleh kelompok teroris jaringan Al-Qaida telah menggemparkan masyarakat dunia akan ancaman yang sama pada negara-negara lain termasuk Indonesia yang dikacaukan keamanannya atas aksi serangan bom diantaranya Bom Bali, JW Marriott dan Keduataan Australia di kuningan Jakarta yang dilakukan oleh kelompok militan Jama’ah Islamiyah di berbagai kota di Indonesia, sehingga masyarakat menjadi cemas dan gelisah *

 

A. Upaya Pencegahan

Menyadari betapa besar kerugian yang ditimbulkan dari aksi terorisme yang berkembang di Indonesia baik secara materiil maupun spirituil. Meluasnya tindakan terorisme di Indonesia menyebabkan perekomian menjadi kacau, karena investor enggan menanamkan modalnya ke Indonesia dikarenakan terganggunya masalah keamanan. Dalam situasi seperti ini masyarakat diliputi dengan rasa kecemasan dan ketakutan terhadap aktifitas yang mereka lakukan. Berkaitan dengan hal tersebut sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk melindungi warganya dari ancaman para teroris yang bisa membahayakan masyarakat umum, karena sepak terjangnya tidak diarahkan pada kelompok tertentu tetapi sudah membaur ke semua warga hingga membahayakan kehidupan umat di dunia. “Terorisme kian jelas menjadi momok bagi peradaban modern. Sifat tindakan, pelaku, tujuan strategis, motivasi, hasil yang diharapkan serta dicapai, target-target serta metode Terorisme kini semakin luas dan bervariasi. Sehingga semakin jelas bahwa teror bukan merupakan bentuk kejahatan kekerasan destruktif biasa, melainkan sudah merupakan kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia (crimes against peace and security of mankind)” (Mulyana W. Kusumah, 2002). Untuk itulah Pemerintah harus bertindak tegas mengusut, menangkap dan menghukum terhadap para pelaku tindak kejahatan terorisme di Indonesia. Untuk melakukan itu semua, maka perlu adanya payung hukum yang menjadi dasar bertindak bagi para penegak hukum nantinya di lapangan, Pada kenyataan Kitap Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), belum mengatur secara khusus serta tidak cukup memadai memberantas Tindakan Kejahatan Terorisme. Guna menindak lanjuti penaggulangan masalah Tindakan Terorisme di Indonesia itu, maka Pemerintah Indonesia merasa perlu membuat Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme melalui penyusunan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2002, dimana pata tanggal 4 April 2003 Perpu ini telah disyahkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Dari lahirnya Undang-Undang inilah akhirnya Tindakan Terorisme di Indonesia akan dapat dicegah dengan melakukan pengusutan, penangkapan dan penghukuman oleh aparat penegak hukum di Indonesia, tentunya melalui prosedur yang sudah ditentukan.

Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai penanggung jawab masalah keamanan dalam negeri dan ketertiban masyarakat di lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebenarnya telah berupaya sekuat tenaga menciptakan keamanan dalam negeri melalui koordinasi dari jajarannya termasuk dengan institusi terkait seputar keamanan negara. Terkait dengan masalah Tindakan Terorisme di Indonesia dimana intensitas pergerakaannya mulai meningkat sejak tahun 2000 itu, dimana tindakannya sudah mengarah pada penggunaan senjata api dan bahan peledak atau bom yang sangat membahayakan kehidupan masyarakat serta menciptakan kekacauan keamanan dalam negeri suatu negara. Maka gejala inipun sudah diantisipasi oleh  Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan  membentuk kesatuan khusus Gegana dari Korps Brimob Polri yang dikhususkan menangani tindakan kejahahan berkadar tinggi yaitu menggunakan senjata api dan bahan peledak atau bom serta bahan kimia.  Jaringan pergerakan pasukannyapun sudah diperkuat melalui satuan-satuan yang dikoordinir oleh Polda-Polda seluruh Indonesia guna mengantisipasi pergerakan para teroris beraksi di berbagai tempat. Walaupun pihak keamanan sudah menerapkan tindakan tegas, tetapi aksi terorisme tidak redah juga, sementara masalah keamanan dan ketertiban masyarakat dalam aspek lain misalnya tawuran warga, pelajar dan mahasiswa serta unjuk rasa juga mengalami peningkatan sehingga beban tanggung jawab Polri semakin berat mengendalikan kesemuanya itu. Melihat perkembangan keamanan dalam negeri semakin kompleks, maka Polri merasa perlu membentuk Pasukan Khusus yang menangani masalah Tindakan Terorisme di Indonesia. Langkah ini sebagai upaya untuk mengimbangi jaringan terorisme yang makin menyebar dan menyusup secara samar-samar di tengah masyarakat sehingga gerak gerik mereka terkadang luput dari pantauan aparat keamanan.

Dalam mewujudkan hal itu, Polri merasa perlu dukungan payung hukum yaitu Undang-Undang yang mengatur tentang masalah Terorisme sebagai dasar hukum untuk menindak para pelaku tindakan terorisme itu. Setelah disyahkannya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, maka setahun kemudian 26 Agustus 2004 Polri secara resmi membentuk Pasukan Khusus Anti Teror yaitu “Detasemen Khusus 88 (Densus 88)” dibawa langsung Mabes Polri, dimana keberadaan pasukan ini selain ada di pusat juga diperkuat pembentukannya melalui satuan-satuan kecil di masing-masing Polda seluruh Indonesia. Dalam Operasionalnya Densus 88 Mabes Polri dibantu dengan satuan Gegana Korps Brimob Polri untuk memburu, menangkap pelaku-pelaku aksi terorisme di Indonesia. Terbukti dengan dibentuknya pasukan khusus “Densus 88” ini, tindakan masalah terorisme mulai tahun 2005 menunjukkan tanda-tanda penurunan, karena sepanjang tahun pasukan ini terus melakukan pemburuan, penyergapan dan penangkapan bahkan menembak mati para gembong terorisme di Indonesia yang dalam penyergapannya itu, melakukan perlawanan seperti tertembaknya Dr. Azahari dan Noordin Mohammed Top serta para anggota jaringan teroris lainnya. Pasukan ini terus bekerja dari waktu ke waktu baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi bagai intelijen menyusup di tengah masyarakat melakukan pemantauan gerak gerik para teroris hingga tidak bisa lagi bergerak dengan leluasa untuk mengacaukan keamanan dalam negeri Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

Sejak maraknya aksi-aksi terorisme di Indonesia sejak tahun 2000 itu, sebenarnya pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) jauh sebelumnya telah membaca situasinya terhadap gangguan keamanan yang dapat membahayakan atas keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan cara membentuk pasukan khusus yang dilatih untuk menanggulangi keamanan Negara dari pengacau-pengacau keamanan yang berkadar tinggi dengan menggunakan senjata api dan bahan peledak atau bahan kimia termasuk bahan biologi. Pembentukan pasukan ini telah disiapkan dari ketiga angkatan diantaranya TNI Angkatan Darat lewat Detasemen Khusus Satuan 81 Penangulangan Teror atau disingkat dengan Sat-81/Gultor Group dari Kopassus dan Batalyon Raider terdiri dari 8 Yonif (Batalyon Infanteri) dari beberapa Kodam (Komando Daerah Militer) dan 2 Yonif (Batalyon Infanteri) dari Kostrad. TNI Angkatan Laut telah membentuk Detasemen Jala Mangkara atau disingkat dengan DenJaKa dari Korps Marinir TNI AL, Pasukan ini mempunyai spesialisasi dalam mengantisipasi masalah Teror dalam aspek Kelautan. TNI Angkatan Udara juga membentuk Pasukan Anti Teror Pembajakan pesawat udara atau sabotase bandara penerbangan  bernama Detasemen Bravo 90 atau disingkat dengan Den Brovo-90 Group dari Kopaskhas TNI AU. Pasukan Anti Teror yang dimiliki oleh Tentara Nasional Indonesia Lewat ketiga Angkatan itu, pada dasarnya adalah bertujuan menjaga keamanan dari segala macam gangguan sekalipun aksi yang dilakukan itu berkadar tinggi, TNI dengan segala kemampuannya sanggup untuk melumpuhkannya demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Masalah keamanan dan ketertiban masyarakat adalah tanggung jawab dari pihak kepolisian Negara Republik Indonesia, dan  selama masalah gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat dapat ditangani oleh pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia, TNI hanya mem Back-up saja…, artinya jika Negara lewat Kepolisian Negara memerlukan bantuan terhadap TNI, maka TNI Siap menerjunkan pasukannya kapan saja… dan dimana saja…!. Tetapi Jika Negara dalam keadaan kacau balau tak terkendali atas aksi kelompok manapun hingga menimbulkan gangguan keamanan negara baik dari dalam negeri muapun luar negeri, maka TNI yang akan berada di garda terdepan untuk membereskan bersama pasukannya dalam rangka menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Weee…hebat juga yaaa…!!!.

 

 

 

 

 

 

 

* Pasukan Anti Teror yang dimiliki oleh Indonesia Lewat Satuan Gegana Korps Brimob Polri, Detasemen Khusus 88 Mabes Polri, Satuan 81 Gultor Kopassus TNI-AD, Batalyon Raider TNI-AD, Detasemen Jala Mangkara Korps Marinir TNI-AL dan Detasemen Bravo 90 Korps KoPaskhas TNI-AU dengan segala kemampuan yang dimiliki untuk mengamankan wilayah negara dan pada waktu yang tepat nanti mereka semua bersatu padu menumpas, memukul, melumpuhkan, menghancurkan hingga luuudddesss…  segala macam bentuk gangguan keamanan atau tindakan kejahatan berkadar tinggi sekalipun yang bisa membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia *

 

B. Berdirinya Pasukan Anti Teror Indonesia Milik Polri

Dalam rangka menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat dan mencegah berkembangnya ganguan keamanan berkadar tinggi termasuk menjaga keselamatan Negara, maka aparat keamanan yang diwakili oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia perlu mendirikan “Pasukan Anti Teror” yang dilatih secara khusus untuk memukul dan melumpuhkan sekaligus menumpas para gerombolan pengacau keamanan negara khususnya kejahatan terorisme di Indonesia. Untuk mengenal lebih dalam tentang Pasukan Anti Teror yang dimiliki oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia, berikut ini akan dibahas tentang “Profile Pasukan Anti Teror Indonesia” dari Kepolisian Negara Repubik Indonesia  seperti dalam uraian berikut ini :

 

1. SATUAN 1 GEGANA Korps Brimob Polri

Satuan 1 GEGANA Korps Brimob Polri adalah Pasukan Khusus dari Korps Brimob Polri yang mempunyai tugas berdasarkan perintah Kakorbrimob membina dan mengerahkan kekuatan satuan untuk menindak para pelaku gangguan kamtibmas berkadar tinggi khususnya kejahatan terorganisir yang mempergunakan senjata api, bahan peledak atau bom dan perlawanan teror serta kejahatan yang menggunakan bahan kimia, biologi dan radio aktif berbahaya, baik berskala nasional maupun international. Dalam operasional tugasnya Satuan 1 GEGANA dibantu dengan satuan-satuan yang lebih kecil dibawah komando Polda-Polda yang berada di seluruh Indonesia menindak pelaku-pelaku kejahatan berkadar tinggi di masing-masing wilayah Poldanya. Pasukan inilah yang dikirim oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia termasuk Polda-Polda yang ada diseluruh Indonesia jika wilayahnya terdapat ancaman teror bom atau senjata biologi, bahan kimia serta radio aktif yang dihembuskan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Dengan peralatan yang canggih sesuai dengan kadsarnya mereka mendeteksi tempat tempat yang mencurigakan, hingga mereka menyatakan dalam keadaan aman.

 

a. Sejarah Pembentukannya

Kehadiran Satuan GEGANA Korps Brimob Polri dilatar belakangi oleh suatu peristiwa pembajakan pesawat udara di Autralia pada tahun 1974. Untuk mengantisipasi masalah keamanan terhadap pembajakan pesawat serupa di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana letak Republik Indonesia secara geografis berdekatan dengan Negara Australia itu, maka dibentuklah Satuan GEGANA yang bertugas sebagai Pasukan Khusus Anti Pembajakan Pesawat Udara yang disingkat dengan ATBARA. Pasukan ini terbentuk atas Keputusan Kadapol Metro Jaya No. Pol: Skep/ 29/ XI/ 1974 tanggal 27 November 1974, dimana Skep ini merupakan realisasi dari instruksi Menhankam/ Pangab Nomor : SHK/ 633/ V/ 1972 tanggal 20 Mei 1972 dan Instruksi KaPolri No. Pol : INST/ 41/ VII/ 1972 tanggal 29 Juli 1972 tentang Penanggulangan Kejahatan Pembajakan Udara/Laut dan Terorisme International.

Pada awal dibentuknya, satuan ini bertugas membantu Kadapol VII Metro Jaya menanggulangi masalah pembajakan udara/laut dan masalah terorisme International termasuk masalah-masalah penculikan dan penyandraan karyawan kedutaan dari negara-negara lain di wilayah Kodak VII Metro Jaya. Seiring dengan perkembangan zaman dan terkait dengan masalah keamanan dalam negeri serta tuntuan keamanan yang lebih luas yaitu seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Satuan ini dikembangkan menjadi Detasemen GEGANA dibawah Pusbrimob Polri berdasarkan surat keputusan KaPolri No. Pol : Skep/ 487/ XII/ 1984 tanggal 13 Desember 1984 tentang pembentukan Detasemen GEGANA Brigade Mobil Polri pada Samapta Mabes Polri. Berubahnya nama Pusbrimob Polri menjadi Korps Brimob Polri pada tahun 1996, maka Detasen GEGANA mengalami pemekaran menjadi Resimen II GEGANA Korps Brimob Polri membawahi 4 Detasemen berdasarkan spesifikasi keahlian, Pada tahun 2001 Resimen II berganti nama menjadi Resimen IV Korps Brimob Mabes Polri berdasarkan surat keputusan KaPolri No. Pol : Kep/ 9/ V/ 2001 tanggal 25 Mei 2001 tentang organisasi dan tata kerja satuan-satuan organisasi pada tingkat Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan membawahi 4 Detasemen . seiring dengan berjalannya waktu dan tanggung jawab yang komples pada tahun 2009 kekuatan diperbesar menjadi 5 Resimen dan namanya menjadi Satuan 1 GEGANA dan berdasarkan Peraturan KaPolri nomor 21 tahun 2010 tanggal 14 September 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja satuan organisasi pada Mebes Kepolisian Negara Republik Indonesia, maka Satuan 1 GEGANA membawahi 5 Detasemen meliputi :

1) Detasemen A / Reserse Intel Mobile disingkat Den Resintelmob

2) Detasemen B / Penjinak Bahan Peledak disingkat Den Jilbom

3) Detasemen C / Lawan Teror disingkat Den Wanteror

4) Detasemen D / Anti Anarkis disingkat Den AA

5) Detasemen E / Kimia, Biologi dan Radioaktif disingkat Den KBR

 

b. Logo Kesatuan

 

Nama Gegana berasal dari bahasa Sansekerta “Gheghono” yang mempunyai arti awang-awang. Kata ini mengandung makna, bahwa awal terbentuknya pasukan ini adalah sebagai pasukan untuk menanggulangi masalah pembajakan pesawat udara termasuk penggunaan senjata api dan bahan peledak.

Pada waktu peresmian Satuan Gegana, juga dipamerkan seragam pasukan yang berwarna hitam sebagai makan bahwa warna hitam merupakan symbol kekal dan abadi serta ketenangan, sehingga dalam tugasnya itu dilakukan secara terus-menerus dengan sikap tenang penuh keseriusan dalam menghadapi masalah berkadar tinggi itu.

Warna Kuning melambangkan Anggota Gegana dalam melaksanakan tugas selalu berjiwa kesatria pembela kebenaran dan keadilan serta kemanusiaan.

Warna Merah melambangkan Anggota Gegana dalam melaksanakan tugas penuh keberanian serta pertimbangan tepat.

Warna Putih melambangkan Anggota Gegana dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya hanya mempunyai pamrih “Suci Bersih” sebagai wujud pengabdian pada bangsa dan Negara.

Burung Walet melambangkan Anggota Gegana dalam melaksanakan tugas selalu bertindak diatas kejujuran dan kebenaran serta menjiwai dari filosofi burung wallet yang selalu kuat dan kokoh dalam menghadapi terpaan angin, hujan, panas tanpa kenal lelah dalam menjalankan tugas operasi di lapangan.

Sedangkan moto yang ada dalam logo tersebut yang berbunyi Setia – Tabah – Waspada mempunyai makan bahwa kata Setia melambangkan Setia terhadap Negara dan Bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Tribrata, dan Catur Prasetya. Kata Tabah melambangkan Tahan dan kukuh pada pendirian dalam menghadapi tantangan tugas. Sedangkan kata Waspada melambangkan Senantiasa siap siaga dalam menghadapi segala kemungkinan.

 

c. Tugas Pokok

Satuan 1 Gegana sebagai salah satu unsur pelaksana utama di jajaran Korps Brimob Polri memiliki tugas berdasarkan perintah Kakorbrimob membina dan mengerahkan kekuatan satuan untuk menindak gangguan kamtibmas berkadar tinggi khususnya kejahatan terorganisir yang mempergunakan senjata api, bahan peledak dan bom serta kejahatan yang mempergunakan bahan kimia, biologi dan radiologi baik dalam skala nasional maupun skala international.

Seluruh tugas yang di bebankan pada Gegana itu di klasifikasikan berdasarkan kadar atau spesifikasi golongan kejahatan yang dilakukan. Klasifikasi itu terdiri dari 5 Detasemen diantaranya sebagai berikut :

1) Detasemen A/ Resintelmob :   

Salah satu unsur pelaksana utama di jajaran satuan 1 Gegana yang memiliki tugas berdasarkan perintah Kasat 1 Gegana membina dan mengerahkan kekuatan kesatuan untuk menindak gangguan kamtibmas berkadar tinggi khususnya fungsi reserse intelijen Mobile sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang telah ditetapkan.

 

 

2) Detasemen B/Jilbom               :      

Salah satu unsur pelaksana utama di jajaran satuan 1 Gegana yang memiliki tugas berdasarkan perintah Kasat 1 Gegana membina dan mengerahkan kekuatan kesatuan untuk menindak gangguan kamtibmas berkadar tinggi khususnya dalam penanganan, pengamanan dan penjinakan yang terkait dengan bahan peledak dan bom sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang telah ditetapkan.

 

 

3) Detasemen C/ Lawan Teror             :

Salah satu unsur pelaksana utama di jajaran satuan 1 Gegana yang memiliki tugas berdasarkan perintah Kasat 1 Gegana membina dan mengerahkan kekuatan kesatuan untuk menindak gangguan kamtibmas berkadar tinggi khususnya dalam penanganan, penindakan dan penagkapan para penghembus terror atau pelaku tindakan terorisme sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku.

 

 

4) Detasemen D/ Anti Anarkis             :

Salah satu unsur pelaksana utama di jajaran satuan 1 Gegana yang memiliki tugas berdasarkan perintah Kasat 1 Gegana membina dan mengerahkan kekuatan kesatuan untuk menindak gangguan kamtibmas berkadar tinggi khususnya dalam penanganan, penindakan dan penangkapan para pelaku tindakan anarkis pada suatu kegiatan tertentu misalkan demo atau unjukrasa sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang sudah ditetapkan.

 

 

5) Detasemen E/ Kimia, Biologi, RadioAktif    :

Salah satu unsur pelaksana utama di jajaran satuan 1 Gegana yang memiliki tugas berdasarkan perintah Kasat 1 Gegana membina dan mengerahkan kekuatan kesatuan untuk menindak gangguan kamtibmas berkadar tinggi khususnya dalam penanganan, penindakan dan penangkapan para pelaku tindakan kejahatan dengan mempergunakan bahan kimia, biologi serta radioaktif yang berbahaya sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang sudah ditetapkan.

 

 

d. Keanggotaan

Satuan 1 GEGANA Korps Brimob Polri adalah bagian dari korps Brimob Polri dimana para anggotanya tidak sebanyak anggota dari Korps Brimob, Anggota-anggotanya kebanyakan diambil dari mantan anggota Pelopor Korps Brimob yang telah lulus seleksi. Anggota yang telah lulus ini kemudian harus mengikuti pendidikan selama 4 bulan tentang Pembajakan Pesawat Udara dikelapa dua, Ciputat dan Cimahi. Untuk Unit Jilhandak atau Jilbom mengikuti Pendidikan di Pusdikit Zeni Cimahi Jawa Barat. Setelah menempuh pendidikan tersebut, maka anggoata resmi Gegana ditempatkan di Markas Komando.

Mengingat situasi keamanan yang meningkat dengan mengunakan media yang begitu kompleks serta penggunaan teknologi canggih itu, maka mulai tahun 1990 jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia lewat pasukan khusus ini perlu tenaga-tenaga professional dalam multi disiplin ilmu untuk didik penjadi perwira. Tenaga-tenaga professional yang berkualifikasi sarjana dengan beragam keilmuana seperti Teknik Elekto, Teknik Kimia, Teknik Biologi, Teknik Nuklir, Komunikasi, Kedokteran, Komputer serta yang lainnya melalui penyaringan Pendidikan Perwira Sumber Sarjana. Keberadaan dari tenaga-tenagaahli tersebut semakin meningkatkan kemampuan Satuan Gegana dalam melaksanakan tugas-tugas yang begitu berat dan kompleks, dimana wilayahnya begitu luas sampai seluruh wilayah Republik Indonesia dibantu dari kekuatan Polda-Polda yang ada.

 

 

 

 

* Satuan 1 Gegana Korps Brimob Polri dengan segala kemampuan yang telah dimiliki siap membasmi setiap pengacau keamanan dan ketertiban masyarakat khususnya berkadar tinggi dengan menggunakan senjata api dan bahan peledak atau bom, bahan kimia,biolori serta radioaktif hingga tak bisa berkutik lagi *

 

e. Senjata Yang Digunakan

Karena kesatuan ini berhadapan dengan pengacau-pengacau amasalah keamanan dan ketertiban yang mempunyai kadar tinggi, maka pasukan ini dilengkapi dengan persenjataan standard militer seperti persenjataan yang digunakan oleh Korps Brimob. Senjata yang paling umum digunakan adalah Jenis AR-15 dengan berbagai varian, Senapan Sebu SS1, Steyr AUG, HK MP5 dan Pistol

 

 

 

 

 

* Senjata yang digunakan oleh para pasukan satuan 1 Gegana Korps Brimob Polri adalah senjata standard militer, karena musuh yang dihadapi adalah musuh berkadar tinggi dan senjata ini sering dipakai oleh korps Brimob Polri seperti Mp4, AR-15, HK MP5, Steyr AUG dan Pistol FN *

 

f. Kendaraan Operasi

Dalam melaksanakan operasional tugas Pasukan ini dilengkapi kendaraan khusus sebagai alat angkut pasukan dalam melaksanakan tugas operasi, kendaraan yang digunakan  tergantung dari kondisi dan situasi dilapangan. Kendaraan tersebut seperti pesawat berbadan lebar Hercules sebagai angkut pasukan dengan lokasi target tergolong jarak jauh, mobil khusus angkut pasukan yang berada di wilayah daratan termasuk di wilayah laut atau perairan.

 

 

 

 

 

 

* Beragam kedaraan yang dimiliki Satuan 1 Gegana Korps Brimob Polri sebagai alat pendukung operasi yang akan dilakukan baik melalui wilayah udara, darat maupun laut dalam rangka memburu, melumpuhkan dan menangkap para pengacau keamanan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia *

 

g. Kepala Satuan dan Kepangkatan

Secara struktur organisasi Satuan1 Gegana Korps Brimob Polri berada dalam naungan Brigade Mobil Polri, oleh karena itu dalam operasionalnya Kepala Satuan 1 Gegana mendapat perintah dan bertanggung jawab langsung pada Kepala Korps Brimob Polri. Kepangkatan  Satuan 1 Gegana Korps Brimob Polri berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes. Pol) dengan simbol kepangkatan melati tiga( dalam Militer/TNI Kolonel). Sementara Kepala Korps Brimob Polri yang memerintah dan menerima pertanggung jawabannya adalah berpangkat Inspektur Jendral Polisi ((Irjen.Pol) dengan simbol kepangkatan bintang dua (dalam Militer/TNI Mayor Jendral). Satuan Gegana di tingkat Polda berpangkat Komisaris Polisis (KomPol) dengan simbol kepangkatan melati satu Dalam Militer/TNI Mayor) . Sementara Kepala Korps Brimob Polda yang memerintah dan menerima pertanggung jawabanya adalah berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes. Pol) dengan simbol kepangkatan melati tiga (dalam militer/TNI Kolonel) dan sebagai atasanya adalah KaPolda berpangkat Inspektur Jendral Polisi (Irjen.Pol) dengan simbol kepangkatan bintang dua.

 

h. Markas Komando

Markas komando Satuan 1 Gegana korps Brimob Polri berada di sebuah komplek areal di daerah Kelapa dua Cimanggis Depaok

 

2. DENSUS 88 Mabes Polri

Detasemen Khusus 88 atau disingkat dengan Densus 88, merupakan Satuan Pasukan Khusus dari Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk menangggulangi masalah Tindakan Terorisme di Indonesia. Pasukan Khusus milik Kepolisian ini dilatih secara khusus tentang penaggulangan tindak kejahatan berkadar tinggi menggunakan senjata api dan bahan peledak termasuk ancaman teror yang dilakukan oleh organisasi terkoordinir sparatis hingga membahayakan keamanan dan ketertiban di masyarakat, terutama masalah tindakan terorisme di Indonesia. Para anggota dari pasukan ini sebagian diambil dari Satuan 1 Gegana Korps Brimob Polri.

Detasemen Khusus 88 dirancang sebagai Pasukan Anti Teroris yang memiliki kemampuan mengatasi segala macam bentuk teror dari ancaman peledakan bom, hingga penyandraan yang dilakukan oleh jaringan teroris terorganisir. Densus 88 merupakan Pasukan Khusus dibawah Kepolisian Negara republic Indonesia. Densus 88 yang berada di Pusat/Mabes Polri berkekuatan hingga 400 Personel terdiri dari berbagai macam keahlian seperti Ahli Investigasi, Ahli Penjinak Bom, Penembak Jitu serta Satuan pemukul bereaksi cepat hingga sanggup melumpuhkan sasarannya. Dalam Operasionalnya yang mencakup seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu, dibantu dengan Satuan yang lebih kecil di masing-masing Polda dengan kekuatan personel 45-75 anggota tergantung dari kebutuhan wilayah Polda yang bersangkutan. Fungsi Detasemen Khusus 88 tingkat Polda adalah memeriksa laporan aktifitas teror di daerah dan melakukan penangkapan kepada personel atau seseorang maupun sekelompok orang yang dipastikan merupakan anggota jaringan teroris hingga keberadaannya dapat membahayakan keutuhan dan keamanan negara R.I.

 

a. Sejarah Pembentukannya

Awal terbentuknya Detasemen Khusus 88 dilatar belakangi maraknya aksi-aksi terorisme dengan menggunakan bahan peledak alias bom yang dilakukan oleh jaringan terorganisir di Indonesia dalam kurun waktu 2000-2005. Walaupun pada masa itu sudah ada pasukan anti terror yang dimiliki oleh Polri yaitu Gegana, namun karena benban tugas Gegana terlau kompleks sehingga jumlah pesonelnya dirasa kurang maksimal menindak masalah terorisme yang kian marak. Setelah terbentuknya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2002, dimana pata tanggal 4 April 2003 Perpu ini telah disyahkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Dalam rangka membasmi Masalah Tindakan Kejahatan Terorisme di Indonesia, maka Kepolisian Negara Republik Indonesia perlu membentuk Pasukan Khusus Anti Teror yang bertugas secara khusus membasmi melalui pengejaran dan penangkapan kepada para pelaku tindak kejahatan masalah terorisme di Indonesia. Akhirnya Detasemen 88 ini diresmikan oleh KaPolda Metro Jaya Inspektur Jendral Firman Gani pada tanggal 26 Agustus 2004 dengan anggota awalnya berjumlah 75 personel dan sebagai komandannya pada awaktu itu adalah Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian. Pendirian Detasemen Khusus 88 ini mengacu pada Skep : KaPolri No. 30/ VI/ 2003. Pasukan ini mempunyai kemampuan lebih, karena dilatih langsung oleh Instruktur FBI, CIA dan US. Secret Service melalui kerjasama bagian jasa Keamanan Diplomatik Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dengan Indonesia dalam rangka memerangi terorisme international yang sudahmenjadi kesepakatan dunia.

Seiring dengan tugas Detasemen Khusus 88 ini makin meluas, maka Detasemen ini ditarik ke Mabes Polri hingga mempunyai anggota sekitar 400 personel. Dalam Operasionalnya yang mencakup seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu, dibantu dengan Satuan yang lebih kecil di masing-masing Polda dengan kekuatan personel 45-75 anggota tergantung dari kebutuhan wilayah Polda yang bersangkutan. Fungsi Detasemen Khusus 88 tingkat Polda adalah memeriksa laporan aktifitas teror di daerah dan melakukan penangkapan kepada personel atau seseorang maupun sekelompok orang yang dipastikan merupakan anggota jaringan teroris hingga keberadaannya dapat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

b. Logo Kesatuan

 

 

Detasemen Khusus 88 Mabes Polri ini memakai logo bergambar seekor Brung Hantu, dimana Burung Hantu ini mempunyai makna bahwa burung ini mempunyai keistimewaan disbanding dengan burung lainnya. Burung Hantu mempunyai bentuk kepala yang datar dengan dua matanya menghadap kedepan layaknya wajah manusia. Burung Hantu adalah tergolong binatang pemangsa atau burung predator.

Mata yang terletak didepan dengan wajah datar itu memberikan pandangan secara menyeluruh dan menyatu terhadap obyek yang ada disekitarnya. Burung ini mempunyai kemampuan penglihatan secara binokuler yaitu mampu melihat dengan kedua matanya secara bersamaan. Bola matanya yang terlihat bulat menandakan penglihatan yang tajam meskipun dalam kondisi malam hari dengan suasana yang begitu samar-samar sekalipun. Burung ini juga mampu memutar kepalanya dengan sudut 270 derajat sehingga mampu melihat suasana disekelilingnya yaitu ke arah depan, samping kiri kanan dan belakang. Burung Hantu juga dilengkapi sistem pendengaran yang sangat baik melalui telinga dengan didukung wajah lebar berfungsi sebagai radar mampu mendengar buruan tingkus sejauh 500 meter. Lebih dari itu burung ini juga dibekali dengan konstuksi sayap yang kokoh serta cakar tajamnya hingga mampu terbang tanpa bersuara dan menerkan buannya dengan cengkeramannya hingga tak berkutik lagi.

Karakter yang dimiliki oleh Burung Hantu inilah akhirnya menjadi filosofi dari Detasemen Khusus 88 Mabes Polri sebagai Pasukan Anti Teror. Melalui penglihatannya bagai burung hantu, Pasukan ini mampu melihat seluruh situasi masalah gangguan tindakan terorisme yang ada di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam waktu 24 jam pagi, sing dan malam hari. Pasukan ini akan memburu dan menangkap buruannya setiap waktu dengan cara menyusup diam-diam tak bersuara dimana para teroris bersembunyi hingga tak berkutik lagi bergerak dengan leluasa dalam rangka mengacaukan keamanan negara. Sementara teks Detasemen Khusus – Anti Teror, melambangkan bahwa pasukan ini adalah terbatas anggotanya dan mempunyai keahlian khusus dalam memburu dan menangkap pelaku tindakan terorisme di Indonesia hingga menciptakan makna anti teror.

Sementara angka 88 melambangkan suatu borgol bahwa musuh yang menjadi sasaran adalah berbahaya oleh karena itu perlu diikat dengan menggunakanborgol supaya tidak bisa berkutik lagi. Pengertian lain juga menggambarkan angaka 8 merupakan angka yang nyambung tak terputus dalam visualisasinya, hal ini memberikan gambaran bahwa Pasukan Khusus Densus 88 Mabes Polri ini dalam memburu para terorisme di Indonesia juga tak terputus dari waktu dan situasi yang terjadi. Pengertian 88 juga berarti Anti Teror Act dengan disingkat menjadi ATA, jika dilafalkan dalam bahasa Inggris akan berbunyi Ei Ti Ekt dan pelafalan ini menjadi terdengar seperti Eighty Eight atau dengan angka 88. Kalangan masyarakat juga ada yang menginterpretasikan angka 88 adalah jumlah korban Bom Bali dari Negara Australia.

 

c. Tugas Pokok

Detasemen Khusus 88 Mabes Polri adalah sebagai salah satu unsur pelaksana utama di jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia memiliki tugas berdasarkan perintah KaPolri membina dan mengerahkan kekuatan satuan untuk menindak gangguan kamtibmas berkadartinggi khususnya kejahatan terorganisir yang mempergunakan senjata api, bahan peledak dan bom yang dilakukan oleh kelompok terorisme dalam skala nasional maupun skala international. Pasukan Khusus ini mempunyai tugas dan kewenangan untuk memburu dan menangkap para pelaku Tindak Terorisme di Indonesia atau di Negara lain dimana pelakunya adalah Warga Negara Indonesia melalui konsulat diplomatik di Negara yang bersangkutan.

 

 

 

 

* Detasemen Khusus 88 Mabes Polri dengan segala kekuatan yang ada di dalam dirinya akan terus memburu, menyergap dan menangkap para teroris bersama jaringannya yang merusaha mengacaukan keamanan dan ketertiban masyarakat hingga menimbulkan kecemasan di masyarakat *

 

d. Keanggotaan

Detasemen Khusus 88 Mabes Polri adalah bagian dari jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia dimana para anggotanya tidak sebanyak anggota dari Korps Brimob, Anggota-anggotanya bisa diambil dari anggota Korps Brimob yang telah lulus seleksi. Anggota yang telah lulus ini kemudian harus mengikuti pendidikan secara khusus tentang masalah terorisme dan istimewahnya, kesatuan ini mendapat pelatihan lebih, karena dilatih langsung oleh Instruktur FBI, CIA dan US. Secret Service melalui kerjasama bagian jasa Keamanan Diplomatik Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dengan Indonesia dalam rangka memerangi terorisme international yang sudah menjadi kesepakatan dunia.

 

 

 

 

* Anggota Detasemen Khusus 88 Mabes Polri akan terus menempah diri dalam latihan-latihan terpadu guna pengaplikasian teknologi yang terus berkembang agar terlatih dalam tugas penyergapan berikutnya yang selalu menantang setiap waktu tindakan terorisme tanpa pandang bulu siapa korbannya *

 

e. Senjata Yang Digunakan

Karena kesatuan ini berhadapan dengan pengacau-pengacau masalah keamanan dan ketertiban yang mempunyai kadar tinggi, maka pasukan ini dilengkapi dengan persenjataan standard militer seperti persenjataan yang digunakan oleh Korps Brimob. Senjata yang paling umum digunakan adalah Jenis AR-15 dengan berbagai varian, Senapan Sebu SS1, Steyr AUG, HK MP5 dan Pistol

 

 

 

 

 

* Senjata yang digunakan oleh para pasukan Detasemen Khusus 88 Mabes Polri adalah senjata standard militer, karena musuh yang dihadapi adalah musuh berkadar tinggi dan senjata ini sering dipakai oleh korps Brimob Polri seperti Mp4, AR-15, HK MP5, Steyr AUG dan Pistol FN *

 

f. Kendaraan Operasi

Dalam melaksanakan operasional tugas Pasukan ini dilengkapi kendaraan khusus sebagai alat angkut pasukan untuk melaksanakan tugas operasi berdasarkan target sasaran tergantung dari kondisi dan situasi dilapangan. Kendaraan tersebut seperti pesawat berbadan lebar sebagai alat angkut pasukan dengan target operasi tergolong jarak jauh, mobil khusus angkut pasukan di wilayah daratan bahkan sampai wilayah perairan.

 

 

 

 

* Berbagai macam pendukung dalam rangka mobilisasi pasukan di lokasi operasi sangat diperlukan baik lewat udara dengan menggunakan pesawat Hercules maupun lewat darat dengan menggunakan mobil patroli atau lewat laut dengan penggunakan kapal motor kesemuanya itu tergantung kondisi dan situasi dari target yang diburu *

 

g. Kepala Satuan dan Kepangkatan

Secara struktur organisasi Detasemen Khusus 88 Mabes Polri berada dalam naungan Mabesl Polri, oleh karena itu dalam operasionalnya Kepala Detasemen Khusus 88 mendapat perintah dan bertanggung jawab langsung pada Kepala Kepolisian Republik Indonesia atau KaPolri. Kepangkatan  Kepala Detasemen Khusus 88 Mabes Polri berpangkat Brigadir Jendral Polisi (Brigjen. Pol) dengan simbol kepangkatan bintang satu dalam Militer/TNI Brigadir Jendral). Sementara atasannya adalah Kepala Kepolisian Negara republik Indonesia ( KaPolri) yang memerintah dan menerima pertanggung jawabannya adalah berpangkat  Jendral Polisi ((Jendral.Pol) dengan simbol kepangkatan bintang empat (dalam Militer/ Jendral). Detasemen Khusus 88 di tingkat Polda berpangkat Komisaris Polisis (KomPol) dengan simbol kepangkatan melati satu Dalam Militer/TNI Mayor) . Sementara Kepala Detasemen Khusus 88 yang memerintah dan menerima pertanggung jawabanya adalah berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes. Pol) dengan simbol kepangkatan melati tiga (dalam militer/TNI Kolonel) dan sebagai atasanya adalah KaPolda berpangkat Inspektur Jengral (Irjrn.Pol) dengan simbol kepangkatan bintang dua.

 

h. Markas Komando

Markas komando Detasemen 88 Mabes Polri berada di sebuah komplek areal di Mega Mendung Puncak Bogor Jawa Barat.

 

* TINGGALKAN KOMENTAR ANDA…

Silakan utarakan opini Anda terhadap tulisan ini, guna melatih dan merangsang pemikiran hingga melahirkan suatu pendapat. Komentar yang akan disampaikan hendaknya berkaitan dengan topik permasalahan yang diulas… dan terima kasih sebelumnya… atas kunjungan Anda di Blog ini serta menggoreskan opini lewat komentar…

 

 

Daftar Pustaka :

* Beberapa foto diunduh dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

 

Kusumah, Mulyana.W. 2002. Jurnal Kriminologi Indonesia Fisip Universitas Indonesia Jakarta.

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nomor 1 tahun 2002.

Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Wikipedia dalam beragam konteks.

Situs Resmi Tentara Nasional Indonesia.

Situs Resmi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Situs Resmi Korps Brigade Mobil Polri.

Situs Resmi Satuan 1 Gegana Korps Brimob Polri.

Situs Resmi Polda Metro Jaya

Situs Resmi Korps Brimob Polda Metro Jaya

Beberapa situs terkait dengan topik permasalahan dan diinterpretasikan ulang tetapi tidak mengurangi substansi di dalamnya.

 

Leave a Reply

*